BAB III I M P L E M E N TA S I PA N C A S I L A S A AT I N I Gambar 3: Apresiasi Publik Pada Kabinet Kerja Memberikan contoh sebagai pemimpin yang borsih dan korupsi """"«,0% Membuat Indonesia sebagai ^ poros maritim dunia 7,6% Meningkatkan kesejahteraan rakyat Wc'wuiudkan ekonomi bprdikari A 79 ,2% H Mampu 4 . 5,0% Tidak mampu 25,8% 78,5% 18,5% 6,0% Tidak tahu 71,6% 22,4% "Kcynkinan pemerintahan Jokowi - JK menuntaskan pelanggaran hjk asasi manusia masa lalu" r Responden menurut Kelompok partai politik "Yakin atau tidak yakinkah Anda para meriterl dalam Kabinet 22»5% Kerja akan mampu - mewujudkan visi misi Preside Jokowir Yakin Tidak yakin Tidak tahu Partai politik koalisi TokoAi-Jusuf Kalla 10,2% - Tidak memilih Tidak jaivab/ rahasia ' 136,9% Partai politik koalisi Prabowo Hatta Rajasa 164,5% 25,S , 8,5% 7,7% 8 54,6% 52,3% 40.0% 52,0% M 9.4% 38,6% *Y kin atau tidak yakinkah Anda para merteri dalam * Yakm Tidak 1 yakin Kabinet Kerja mampu saling bekwja sama?" j Yakin Tidak tabu B Tidak yakin Tidak tabu METODEJAJAKPENDAPAT Pen9umpulan pendapat melalui teleport Ini diselenggarakan Litbang "Kompas" pada 29 - 31 Oktober 2014. Sebanyak 655 responden berusia minimal 17 tabun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di 12 kota di Indonesia. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepwcayaan 95 persen, nlrpencupllkan penelitian 3,8 persen. Mesklpun demlkian, kesatahan dl luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasll jajak pendapat Ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini. INkiMtWK hM«t Mrt Sumber: Kompas, 3 November 2014. • Partai politik koalisi Jokowi-Jusuf Kalla: yakin 64,5 persen; tidak yakin 25,3 persen • Partai politikkoalisi Prabowo-Hatta Rajasa: yakin 36,9 persen; tidak yakin 54,6 persen Selanjutnya, kita dapat melihat pada hasil jajak pendapat tentang penilaian kinerja bidang penegakan hukum (Gambar 5) yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada 7-15 April 2015 pada 33 provinsi di Indonesia. Angka ketidakpuasan publik terhadap penegakan hukum –kecuali untuk kasuskasus pidana biasa— cenderung meningkat. Untuk kasus penegakan hak asasi manusia, yang pada 3 bulan pertama pemerintahan Presiden/Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, publik puas (53,4 persen) dan mereka yang tidak puas (39,9 persen); namun 6 bulan kemudian publik justru berbalik, kepuasan publik menurun (42,8 persen) dan ketidak-puasan publik meningkat (46,3 persen). 5) Penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat terhenti merupakan konsekuensi logis dari lemahnya nilai-nilai Pancasila 5) Hasil survei Indonesia Legal Roundtable (ILR) bahwa Indeks Negara Hukum menunjukkan Indonesia meraih nilai 5,8 pada tahun 2014, yang naik 0,06 poin dari Tahun 2013. “Hal ini menegaskan pemerintah belum serius membangun negara hukum yang berkeadilan.” Kompas, 21 Agustus 2015. Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional 47

اختر الفقرة المستهدفة3