Pendahuluan
dilindungi melalui penerapan hukum Islam tetap menjadi sangat penting dalam wacana
hak asasi manusia internasional.
Kerja-kerja terdahulu mengenai masalah ini seringkali menekankan pada sejumlah
penafsiran tradisional hukum Islam dan penafsiran eksklusionis hukum internasional hak
asasi manusia. Hal ini mengaburkan banyak persamaan yang sungguh ada antara hukum
Islam dan hukum internasional hak asasi manusia, serta terus menerus memperkuat teori
ketidaksepadanan di antara kedua hukum itu. Teori ketidaksepadanan meletakkan hukum
internasional hak asasi manusia pada persimpangan jalan di negara-negara Muslim yang
menerapkan hukum Islam. Selain dari banyak literatur sangat umum tentang masalah
penting ini, karya-karya lebih terkenal meliputi Menuju Reformasi Islami oleh An-Naim,15
Islam dan Hak Asasi Manusia oleh Mayer,16 serta Islamisme, Sekularisme, dan HAM di Timur
Tengah oleh Monshipouri.17 Pendekatan di dalam buku ini berbeda signiikan dengan apa
yang dilakukan oleh karya-karya terdahulu itu. Pendekatan dalam karya-karya terdahulu
15
16
17
An-Na’im, A.A., Towards an Islamic Reformation, Civil Liberties, Human Rights, and International Law (1990). Karya-karya lain An-Na’im
tentang hal ini meliputi: ‘The Position of Islamic States Regarding the Universal Declaration of Human Rights’ dalam Baehr, P., et al. (eds),
Innvation and Inspiration: Fifty Years of the Universal Declaration of Human Rights (1999) h.177-192); ‘Human Rights in the Muslim World:
Socio-political Conditions and Scriptural Imperatives’ (1990) 3 Harvard Human Rights Journal, h.13-52; ‘Toward an Islamic Hermeneutics for
Human Rights’ dalam An-Na’im, A.A., et al. (eds), Human Rights and Religious Values: An Uneasy Relationship? (1995) h. 229-242; ‘Islamic Law
and Human Rights Today’ (1996) Interights Bulletin, no.1, 3; ‘Problems of Universal Cultural Legitimacy for Human Rights’ dalam An-Na’im,
A.A., dan Deng, F.M. (eds) , Human Rights in Africa: Cross-Cultural Perspectives (1999) h. 331-367; ‘Towards a Cross-Cultural Approach to
Deining International Standards of Human Rights: The Meaning of Cruel, Inhuman, or Degrading Treatment or Punishment’ dalam AnNa’im, Human Rights in Cross-Cultural Perspectives (1992) h.19-43; ‘Universality of Human Rights: An Islamic Perspective’ dalam Ando, N.
(ed), Japan and International Law: Past, Present, and Future (1999) h. 311-325. Karya Profesor An-Na’im meletakkan hukum Islam tradisional
di bawah jurisprudensi hak asasi manusia internasional, dengan mengabaikan pembenaran ikih Islam. Proposisi utama beliau adalah
demi reformasi hukum Islam ‘dari dalam’ guna mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia internasional melalui proses terbalik ‘nasakh’
(dhi. Pengguguran ayat-ayat tertentu dalam Qur’an oleh ayat-ayat lain), dengan mana penerapan sejumlah ayat-ayat Madiniyyah bisa
ditanggalkan untuk sejumlah ayat-ayat Makkiyah. Beberapa pemikir dalam bidang ini telah mempertanyakan praktikalitas gagasan AnNa’im ini. Lihat e.g. Sachedina, A., ‘Review of Abdullahi Ahmed An-Na’im, Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Rights and
International Law’ (1993) 25 International Journal of Middle East Studies, h. 155-157; dan Manzoor, P., ‘Human Rights: Secular Transcendence
or Cultural Imperialism?’ (1994) 15 Muslim World Book Review, no.1, h. 3 dan h. 8.
Mayer, A.E., Islam and Human Rights, Tradition and Politics (3rd ed, 1999). Karya-karya lain Mayer dalam hal ini meliputi: ‘Universal
versus Islamic Human Rights: A Clash of Cultures or a Clash with a Construct?’ (1994) 15 Michigan Journal of International Law, h.306404; ‘Islam and State’ (1991) 12 Cardozo Law Review, h.1015-1056; ‘Current Muslim Thinking on Human Rights’ dalam An-Na’im, A.A.,
dan Deng, F.M. (eds) , Human Rights in Africa: Cross-Cultural Perspectives (1999) h.131. Tesis utama karya Profesor Mayer ialah bahwa
rancangan-rancangan hak asasi Islam modern tak bisa diandalkan, dalam arti rancangan-rancangan tersebut meminjam substansi mereka dari hak asasi manusia internasional tetapi menggunakan hukum Islam untuk membatasi penerapan hak asasi manusia. Beliau
bersandar secara umum pada penafsiran tradisional tentang syariah dan praktik di beberapa negara Muslim berdasarkan tafsiran tradisional itu, dengan mengabaikan penafsiran alternatif lain yang sama absahnya di dalam syariah tentang masalah tersebut. Walaupun dia
merujuk pada kenyataan bahwa ‘warisan Islam menawarkan banyak konsep ilosois, nilai-nilai humanistis, dan prinsip-prinsip moral
yang pas diadaptasi dalam menyusun prinsip-prinsip hak asasi manusia’, Mayer tidak menjelaskan alternatif-alternatif tersebut. Oleh
karena itu satu pengkaji mengamati bahwa: ‘mengenai tugas penting memaparkan secara komprehensif suatu ajaran hak asasi manusia Islam berdasarkan warisan pra-modern Islam, yang benar-benar kontemporer dan kuat secara metodologis, dia dengan bijaksana
melepaskan ini pada Muslimin dan debat doktrinal internal di antara mereka’. Lihat Troll, C.W., ‘Book Review of Islam and Human Rights:
Tradition and Politics by Ann Elizabeth Mayer’ (1992) 3 Islamic and Christian-Muslim Relations, no. 1, h.131 dan h.133.
Monshipouri, M., Islamism, Secularism, and Human Rights in the Middle East (1998). Karya-karya lain dari Monshipouri dalam
kajian ini meliputi: ‘Islamic Thinking and the Internationalization of Human Rights’ (1994) 84 The Muslim World, no. 2-3. h.217-239; ‘The
Muslim World Half a Century after the Declaration of Human Rights:Progress and Obstacles’(1998) 16 Netherlands Quarterly of Human
Rights, no. 3, h.287-314; Monshipuri, M., dan Kukla, C.G., ‘Islam, Democracy, and Human Rights: The Continuing Debate in the West’
(1994) 3 Middle East Policy, no.2, h. 22-39. Tema sentral karya Profesor Monshipouri ialah ‘menggabungkan prinsip-prinsip sekular
dan Islam dapat memajukan kehormatan manusia secara efektif’. Lihat Monshipouri, M., Islamism, Secularism, and Human Rights in
the Middle East (catatan ini, di atas), h. 25. Satu pengkaji mengamati bahwa sementara Monshipouri ‘menilai aturan-aturan tertentu
dalam hukum Islam dan nilai-nilai konseptual sekularisme berkesesuaian, [dia] tidak mengutarakan nilai-nilai esensial dari Islam yang
sepadan, apalagi menempatkan norma-norma tertentu hak asasi manusia sekular untuk dipertimbangkan’. Lihat Quraishi, A., ‘Book
Review of Islamism, Secularism, and Human Rights in the Middle East by Mahmood Monshipouri’ (2000) 22 Human Rights Quarterly,
h. 625 dan h. 628.
Hukum Internasional Hak Asasi Manusia
dan Hukum Islam
3