PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU Dalam pernyataan resmi yang mendampingi laporan ini, Kepala ­Sekretaris Kabinet Yohei Kono mengatakan: Comfort station dioperasikan menanggapi permintaan p ­enguasa militer pada saat itu. Militer Jepang secara langsung ­maupun tidak ­langsung terlibat dalam pendirian dan pengelolaan “­comfort ­stations” dan dalam pengangkutan “comfort w ­ omen”. ­ Rekrutmen “­ comfort ­women” pada ­ umumnya dilakukan oleh perekrut swasta yang bertindak atas p ­ ­ermintaan pihak m ­ iliter. Penelitian ­ pemerintah ini­ telah ­mengungkapkan bahwa dalam banyak kasus mereka direkrut di luar ­keinginan ­mereka, m ­ elalui pemaksaan, i­ntimidasi dan sebagainya, serta ­kadangkala ­personel a­ dministrasi militer secara langsung terlibat dalam ­proses ­rekrutmen ­tersebut. Mereka hidup menderita di “comfort ­stations”, dalam suasana koersif. Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa hal ini merupakan t­indakan, yang melibatan otoritas/penguasa militer pada masa itu, yang sangat ­melukai kehormatan dan martabat banyak perempuan 72. Berlawanan dengan bukti-bukti yang ada, laporan dan deklarasi para pejabat Jepang meminimalisir kekejian kejahatan yang dilakukan. Bagaimanapun, laporan dan deklarasi tersebut memberikan bobot besar dalam pertimbangan kami mengenai tanggung jawab militer ­maupun sifat “comfort system” sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan melalui tindakan perkosaan dan perbudakan seksual. Kendati menyambut baik langkah-langkah awal menuju pengakuan tanggung jawab atas penderitaan yang diakibatkan sistem p ­ erbudakan seksual militer, yang kami pergunakan untuk keperluan ­persidangan ini, namun harus dikatakan bahwa bukti-bukti yang disampaikan menggambarkan bahwa pengakuan tersebut masih bersifat parsial ­ dan terlalu umum, seperti didiskusikan infra pada Bagian VI mengenai ­Tanggung Jawab Negara. E. SEJARAH AGRESI MILITER JEPANG DI WILAYAH ASIA-PASIFIK Seperti diungkapkan dalam Keputusan IMTFE, pemerintah dan militer Jepang berminat untuk mendominasi seluruh wilayah Asia-Pasifik, ­sejak awal abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20, dengan cara 50

اختر الفقرة المستهدفة3