Ringkasan Eksekutif Namun, sebagian besar Jugun Ianfu Asia menolak dana pemberian AWF tersebut dengan berbagai alasan. Seperti yang dilakukan oleh Kim Hak Soon --- korban Jugun Ianfu dari Korea---, yang dengan tegas menyatakan menolak dan tersinggung dengan perlakuan pemerintah Jepang yang merendahkan tersebut. Soon menyadari bahwa strategi yang dilakukan pemerintah Jepang ini untuk mengelak dari tanggung jawab atas dosa-dosa perang Asia Pasiik. Perjuangan Jugun Ianfu Indonesia lebih berat dibanding dengan Jugun Ianfu negara lain. Hal ini dikarenakan Pemerintah Indonesia tidak mendukung perjuangan Jugun Ianfu Indonesia, baik dukungan berupa moril di dalam dan diluar negeri, maupun dukungan dana kemanusiaan berupa santunan dana kesehatan. Kenyataan ini dibuktikan dengan pernyataan resmi Inten Suweno pada 14 November 1996 menyatakan bahwa, ”Sejak awal pemerintah Indonesia telah menyatakan tidak akan menuntut kompensasi kepada Pemerintah Jepang. Pemerintah Indonesia hanya mengharapkan Jepang mencari penyelesaian yang baik”. Melalui penyataan ini, jelas bahwa pemerintah Indonesia hanya berpikir untuk menjaga hubungan baik dengan pemerintah Jepang, daripada membela dan memperjuangkan hak-hak warga negaranya yang diperlakukan tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan dalam sistem perbudakan seksual militer Jepang tahun 1942-1945. Bahkan pihak DPR yang seharusnya menjadi kekuatan alternatif moral selain pihak Pemerintah Indonesia melalui surat resminya tanggal 9 Desember 1997 menyatakan bahwa persoalan Jugun Ianfu dianggap selesai berdasarkan kesepakatan perdamaian antara Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Soebandrio dan Perdana Menteri Luar Negeri Jepang Chiro Fujiyama 20 Januari 1958. Padahal perjanjian tersebut hanya membahas tentang kerusakan isik akibat perang, sama sekali tidak memperhitungkan aspek penderitaan kemanusiaan akibat perang. xix |

Выберите целевой абзац3