isyarat, tidak dapat maksimal memberikan materi, tidak dapat mendisiplinkan siswa
di sekolah inklusi untuk mengejarkan tugas, serta orang tua yang tidak kooperatif
menyelesaikan permasalahan anak.
•
Kendala yang dialami oleh orang tua selama BDR secara daring, yaitu kesulitan
membagi antara waktu kerja dengan waktu mendampingi anak, kurangnya
keseimbangan peran gender dalam pendampingan anak, keluhan peningkatan biaya
untuk akses internet, tidak memahami teknologi, tidak mempunyai gawai, serta
merasa stres dan jenuh. Banyak orang tua mengeluh mengajari siswa disabilitas di
rumah.
•
Kendala yang dihadapi oleh siswa dengan penggunaan metode daring, yakni
kesulitan mengakses sekolah online dan mengoperasikan gawai, sulit berkomunikasi
karena tidak ada penerjemah yang mendampingi, merasa bosan di rumah, tidak
tersedianya alat bantu komunikasi, tidak tersedianya media pembelajaran, materi
pembelajaran tidak dapat diakses, potensi anak tertular Covid-19 dari orang tuanya,
tidak dapat lama mengikuti Zoom karena penurunan konsentrasi, distraksi yang
ditimbulkan oleh situasi rumah yang mengganggu konsentrasi, harus didampingi
terus menerus oleh orang tua, tidak memahami materi yang diberikan secara daring,
mood belajar yang naik-turun, kondisi fisik yang tidak mendukung saat belajar di
rumah, tidak semua anak mendapatkan support keluarga. Akibatnya banyak PDPD
yang nilainya menurun karena pembelajaran kurang optimal.
D. Kendala Luring dan Upaya yang Dilakukan
Selain metode daring, metode luring atau pembelajaran secara tatap muka juga masih
menuai sejumlah kendala. OPD7 PPDI menyebutkan bahwa kendala metode luring atau
pembelajaran tatap muka yang dilakukan melalui kegiatan home visit terkendala dengan
ketersediaan sumber daya yang terbatas. Bagi sekolah yang memiliki dukungan sumber
daya yang memadai dapat melakukan home visit secara rutin, namun tidak sebaliknya.
Selain itu, OPD9 YPAC Jakarta menyampaikan adanya ancaman keselamatan bagi para
guru ketika melakukan kunjungan ke rumah PDPD di daerah yang rawan Covid-19,
sehingga layanan pun tidak dapat dilakukan secara rutin (on-off). Menurutnya di Jakarta,
misalnya, memang ada wilayah-wilayah yang rawan, yang jika melakukan kunjungan
61