keterbasan fisik yang besar (kekakuan hambatan motorik halus, gangguan penglihatan,
gangguan sensori dan kognisi) membutuhkan pendampingan total, sedangkan banyak
ditemukan masalah pembagian waktu jam belajar yang bersamaan (satu keluarga memiliki
beberapa anak), akhirnya dilakukan penyesuaian atau pengaturan jam belajar. Hal itu juga
berkaitan dengan kendala lainnya yaitu keterbatasan kemampuan orang tua dalam
penggunaan teknologi. Misalnya OPD3 HWDI Kaltim memberikan contoh bahwa orang tua
tidak dapat memakai Zoom. Lebih lanjut, OPD12 BUMI Setara menyampaikan bahwa halhal terkait sekolah banyak dibebankan pada sosok ibu, padahal kadang ia bekerja dan
sekaligus melakukan kegiatan domestik. Ada kelelahan orang tua yang berakibat pada
anak. Hal itu harus diperhatikan beserta dengan kondisi mental ibu sebagai pusat di
tengah-tengah keluarga. Perhatian itu dilakukan untuk menyeimbangkan peran gender
yang terkait KBGO. Selain itu, disebutkan pula olehnya bahwa ada tantangan kepemilikan
gawai, dan keluhan peningkatan pengeluaran keuangan untuk akses internet, seperti yang
disampaikan oleh OPD4 Mitra Netra. Keluhan itu didukung oleh OPD2 HWDI Sulsel yang
menyampaikan penyebabnya dikarenakan pemberian paket data dari pemerintah yang
sangat terbatas, yakni hanya 10 gigabyte per orang, padahal tugasnya banyak. Contohnya
membuat dan mengirim video membutuhkan kuota internet yang besar.
Tentunya berbagai kendala tersebut juga dialami oleh peserta didik penyandang
disabilitas, bahkan dapat dikatakan sebagai kendala berganda.
OPD13 SEHJIRA
menjelaskan kendala siswa tuli yang kadang mengalami kesulitan untuk mengakses
sekolah daring dan tidak dapat menyampaikan ketidakpahamannya juga. Kondisi itu
disebabkan karena di sekolahnya tidak disediakan penerjemah yang dapat mendampingi.
Selain itu, siswa juga sudah bosan di rumah dan tidak paham pengoperasian komputer
dengan baik, termasuk Zoom Meeting. Berkenaan dengan kendala tersebut, OPD14 WWI
turut mengonfirmasi kendala siswa terhadap ketersediaan alat bantu komunikasi, media
pembelajaran (termasuk internet), serta materi yang sebagian besar terdapat di sekolah
dan saat BDR tidak dapat diakses. Hal itu diperkuat pula dengan pernyataan OPD5
GARAMIN NTT, bahwa keterbatasan alat bantu komunikasi menyebabkan anak menjadi
rebutan HP, apalagi ketika tidak ada akses wi-fi. Ditambah pula, kendala bagi PDPD
intelektual adalah tidak dapat konsentrasi dalam durasi yang cukup lama mengikuti Zoom.
Adapun kendala bagi netra total adalah ketiduran ketika mengikuti pembelajaran.
59