Pandemi Covid-19, memaksa sistem pendidikan menyesuaikan berbagai strategi, baik
metode daring (online) yang lazim digunakan, maupun metode luring (offline) dalam
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dikenal juga dengan distanced learning atau istilah
“Belajar Dari Rumah” (BDR). Penyesuaian-penyesuaian yang dilaksanakan secara tibatiba itu tentu saja membawa sejumlah dampak, utamanya terkait dengan adaptasi sekolah,
guru, siswa, dan juga orang tua atau wali murid. Beberapa tantangan terjadi dalam
pelaksanaan metode daring, misalnya kesulitan sinyal, harus bergantian berbagi perangkat
dengan anggota keluarga lainnya, tidak bisa menggunakan teknologi untuk sarana
pembelajaran, tidak terbiasa berinteraksi secara tidak langsung, bosan belajar di rumah,
peningkatan beban pelajaran, tidak adanya kelas tatap muka dapat merusak peluang murid
untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian, kesulitan mengerti materi yang
disampaikan guru dengan media virtual, tidak adanya kelas praktik secara langsung
menyebabkan sulitnya mencapai tujuan pembelajaran, tidak semua siswa memiliki akses
ke teknologi, serta adanya ketakutan melanjutkan pelajaran secara tatap muka. 14 Hal ini
13F
sebagaimana disampaikan dalam Panduan Pembelajaran Bagi Peserta didik Penyandang
Disabilitas Selama Masa Pandemi Covid-19, bahwa:
“Pembelajaran daring merupakan pilihan utama dan terbagi menjadi tatap muka
melalui video conference, teleconference, aplikasi pesan singkat atau Learning
Management System (LMS). Sedangkan pelaksanaan pembelajaran luring dapat
dilakukan melalui televisi, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar
cetak, dan alat peraga serta media belajar dari benda yang mudah didapat dari
lingkungan sekitar.“ 15
14F
Sesungguhnya konsep PJJ atau BDR bukanlah semata-mata dilakukan secara daring,
tetapi juga berbagi peran dengan metode luring dengan memanfaatkan media
pembelajaran tertentu seperti disebutkan di atas. Dalam konteks peserta didik
penyandang disabilitas (PDPD), penggunaan strategi daring maupun luring tidak serta
merta cocok dengan kekhususan yang dimiliki setiap individu PDPD. Hal ini seharusnya
disesuaikan dengan ragam disabilitas dan tentunya mempertimbangkan kemampuan,
kebutuhan, capaian dan kenyamanan masing-masing individu. 16
15F
Randy Mulyanto, ‘Indonesia: Lessons from the Online Classroom’ (2 February 2021)
<https://www.aljazeera.com/news/2021/2/2/how-students-teachers-in-indonesia-cope-with-onlinelearning> accessed 31 July 2021.
15
‘Panduan Pembelajaran Bagi Peserta didik Penyandang Disabilitas Selama Masa Pandemi Covid 19’ (n 11) 4.
16
ibid.
14
7