pengakuan dari Perkins (2004) yang mengatakan: “…the growth of GNP may result even when it profits only one person, such as an individual who owns a utility company, and even if the majority of the population is burdened with debt.The rich get richer and the poor grow poorer.Yet, from a statistical standpoint, this is recorded as economic progress.” Artinya, MP3EI telah keliru menafsirkan pertumbuhan ekonomi sebagai target dan sasaran utama perencanaan pembangunan karena PDB pada dasarnya bukanlah indikator untuk menilai kesejahteraan. Simon Kuznets, perumus pertama PDB Amerika Serikat pada 1934, telah mengingatkan bahwa pendekatan PDB sebaiknya tidak digunakan oleh negera-negara miskin yang struktur perekonomiannya masih didominasi oleh sektor informal (Fioramonti, 2013). Alasannya, keakuratan penghitungan PDB mensyaratkan struktur produksi yang bisa dinilai dengan harga pasar (market based economic function). Sementara itu, struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh sektor informal dan sistem pertanian yang masih subsisten (subsistence farming) dengan nilai keekonomian yang tidak selalu berbasis pasar. Hal ini tergambar pada tabel 2. Data dalam tabel tersebut bersumber dari laporan ISS (Informal Sector Survey) tahun 2009 dengan karakteristik dasar angkatan kerja yang merujuk pada laporan Sakernas tahun 2009. Survei ISS tersebut dilakukan di provinsi DI Yogyakarta dan Banten.Terlihat bahwa kontribusi sektor informal dari sektor pertanian terhadap GDP pada DI Yogyakarta dan Banten memiliki persentase yang cukup besar yaitu 88.95 persen dan 87.43 persen. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sektor informal dari sektor pertanian masih menjadi salah satu basis ekonomi di Indonesia. 42 Kajian MP3EI dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

Select target paragraph3