Jugun Ianfu dan Hak Asasi Manusia c. Akses terhadap Kehidupan Sosial Pada umumnya, Jugun Ianfu hidup dalam kemiskinan ekonomi, penderitaan akibat kerusakan isik, seksual dan psikologis. Sebagian besar dari mereka mengalami kerusakan reproduksi seperti yang dialami oleh Sukarlin, Jugun Ianfu asal Yogyakarta menderita kerusakan organ reproduksi dan dihinggapi penyakit sipilis kronis sehigga matanya buta dan menjadi gila. Sukarlin menderita bertahun-tahun karena penyakitnya tidak terobati dan ketiadaan biaya, lalu ada Mardiyem yang cuma bisa memiliki satu anak akibat kondisi rahim yang tidak lagi normal. Lainnya mengalami kerusakan organ reproduksi akibat terlalu sering diperkosa sejak usia mulai puber pertama (12-15 tahun) dimana setiap harinya rata-rata mereka menerima 10 tamu tentara Jepang. Belum lagi soal penderitaan psikis akibat stigma buruk terhadap Perempuan Jugun Ianfu dari kaum laki-laki pada zaman itu yang menganggap mereka “perempuan kotor” atau “perempuan nakal”. Sehingga banyak diantara Jugun Ianfu terpaksa hidup sendiri tidak menikah karena terisolir dari kehidupan sosial. Bahkan ada diantara Jugun Ianfu yang memiliki anak dari militer Jepang yang memperkosanya seperti yang dialamai Ibu Saidah (Jugun Ianfu asal Jawa Tengah). Hal ini membuat penderitaan isik dan psikologis bagi mereka terus menerus berlanjut sepanjang masa. d. Kesehatan Reproduksi Yang paling dahsyat adalah trauma seksual yang mendera sepanjang hidup mereka. Selain karena terisolir dari pergaulan sosial, sebagian besar dari mereka juga mengalami trauma seksual. Mereka memaknai seksualitas sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menyengsarakan. Sehingga banyak diantara mereka memilih tidak menikah karena menghindari dari kehidupan seksual dalam berhubungan suami istri. 63 |

Select target paragraph3