Menggugat Negara Indonesia Atas Pengabaian Hak-Hak Asasi Manusia
(Pembiaran) Jugun Ianfu Sebagai Budak Seks Militer dan Sipil Jepang 1942-1945
harus dikasih karena tiap kelurahan ada target jumlahnya. Tetapi
nyatanya saya malah di jadikan ransum Jepang di Balikpapan,
Kalimantan Timur selama 6 bulan”.
Kesaksian Omoh, Jugun Ianfu asal Bandung, Jawa barat
“Pada waktu Jepang masuk Indonesia saya berumur 14 tahun,
waktu itu saya sedang berada di depan rumah, kemudian lewat
tentara Jepang bersama temannya datang sambil membawa
mobil ke rumah saya memberikan sepucuk surat kepada orang
tua. Keesokan harinya saya dan orang tua disuruh menghadap ke
kantor tentara Jepang sambil membawa surat.
Di rumah surat itu tidak ada yang berani membuka dan
membacanya karena orang tua saya buta huruf. Di kantor tentara
Jepang barulah saya mengetahui isi surat setelah dibacakan,
kalau saya diterima kerja di kantor tentara Jepang. Setelah saya
menyatakan mau bekerja, langsung saja saya di tempatkan di
Asrama di jalan Simpang Cimahi, Bandung. Saya tidak mengetahui
akan bekerja sebagai apa. Tidak tahunya saya harus melayani
orang-orang Jepang. Jumlah tamu yang datang banyak, saya sangat
lelah dan kena pukul karena dianggap tidak becus melayani”.
Kesaksian Sumiyati Jugun Ianfu asal Kediri, Jawa Timur
“Saya, putri Asisten Wedana kec Pesantren Kec. Pesantren merasa
tertipu propaganda Pemerintahan Pendudukan Balatentara Dai
Nippon dikatakan di dalam usaha mempersiapkan rakyat Indonesia
ke arah kemerdekaan nanti sesuai dengan kehendak Nippon,
generasi mudah Indonesia dididik supaya bisa mengabdikan diri
dalam kemerdekaan”.
|
44