Jugun Ianfu dan Hak Asasi Manusia  Metode Penipuan Metode penipuan dengan iming-iming akan di sekolahkan, diberi pekerjaan sebagai pembantu, pemain sandiwara dan bekerja di rumah makan, dilakukan militer Jepang untuk mengelabui calon korban dan keluarganya. Tidak jarang penipuan yang dilakukan militer Jepang diikuti aksi kekerasan berupa teror terhadap keluarga perempuan calon Jugun Ianfu, seperti beberapa kesaksian Jugun Ianfu; Kesaksian Mardiyem, Jugun Ianfu asal Yogyakarta, Jawa Tengah “Saya ditipu menjadi ransum Jepang-, tadinya saya dijanjikan sebagai pemain sandiwara grup Pantja Soerja di Borneo. Ternyata saya malah dijebloskan di Asrama Telawang, Kalimantan Selatan sebagai ransum Jepang. Selama 3 tahun saya dipaksa melayani puluhan militer dan sipil Jepang di Asrama Telawang”. Kesaksian Suharti, Jugun Ianfu asal Blitar, Jawa Timur ”Pada Jaman Jepang tahun 1944 saya berumur 15 tahun, semua orang tua dikumpulkan di kelurahan, anak perempuan mereka yang berumur 15 tahun keatas diminta oleh tentara Jepang. Dari kelurahan ada petugas orang Indonesia yang mencari anak-anak perempuan itu untuk didaftarkan dan orang tuanya mendapat panggilan dari kelurahan. Orang tua saya di panggil Pak Lurah. Lalu Pak Lurah bilang,”Anak bapak mau dididik, disekolahkan di Balikpapan, lalu setelah lulus nanti kerja di kantor-kantor.” Bapak saya berusah menolak dengan mengatakan kalau saya tidak pernah sekolah, jadi kalau bisa jangan dibawa. Pak Lurah malah ngotot kalau yang tidak sekolah mau didik untuk jadi pembantu. Bapak saya berusaha menolak. Pak Lurah malah marah dan bilang 43 |

Select target paragraph3