Menggugat Negara Indonesia Atas Pengabaian Hak-Hak Asasi Manusia (Pembiaran) Jugun Ianfu Sebagai Budak Seks Militer dan Sipil Jepang 1942-1945 orang dan salah satu dari mereka menarik paksa saya sambil menodongkan senjata yang ujungnya terdapat pisau (bayonet)”. “Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.00 pagi. Setelah itu saya dibawa dengan mobil ke suatu tempat yaitu asrama Jugun Ianfu di jalan Simpang Cimahi, Bandung, letaknya tidak jauh dari tempat saya sekitar dua kilometer. Bapak saya sempat mau menolong saya keluar dari Asrama Cimahi, di tengah jalan saya dengar dari orang-orang Bapak mati ditusuk bayonet Jepang di daerah pasar Antri, sedangkan Ibu meninggal dunia karena memikirkan nasib saya”. Kesaksian Siti Neng Ijuh, Jugun Ianfu asal Garut, Jawa Barat “Pada tahun 1942 datang seorang Jepang bernama Yamada ke Kampung di Garut dengan maksud mengambil saya. Orang tua saya tidak memberi izin akan tetapi mereka takut karena diancam dengan sepucuk pistol. Selanjutnya saya dibawa ke Bandung dan ditempatkan di Hotel Binsi. Satu minggu kemudian saya bersama dengan dua teman lainnya dibawa ke Yogyakarta dan digabungkan dengan rombongan lain kira-kira berjumlah 27 orang. Kemudian kami diberangkatkan ke Balikpapan, lalu ditempatkan di Sangasanga, Kalimantan Timur”. Kesaksian Olis Kartini, Jugun Ianfu asal Bandung, Jawa Barat “Sekitar tahun 1943 saya berusia 15 tahun, karena orang tua bukan orang mampu saya harus kerja di perkebunan teh tempatnya agak jauh dari rumah. Waktu itu yang berkuasa di perkebunan orang Jepang namanya Tukino. Waktu saya sedang bekerja memetik | 40

Select target paragraph3