Kronik Jugun Ianfu Asia
5 Agustus
1993
Kantor penasehat kabinet Jepang untuk urusan luar negeri
Jepang menyatakan bahwa Pemerintah Jepang mengakui
bahwa otoritas militer Jepang melakukan penguasaan
terhadap perempuan-perempuan yang dipaksa memenuhi
kebutuhan seksual tentara sebelum dan selama Perang
Dunia II, dan bahwa pemerintah meminta maaf dan
menyesali permasalahan tersebut, akan tetapi tidak
membahas mengenai kompensasi terhadap para korban
perbudakan seksual.
Agustus
1993
Persoalan Jugun Ianfu mencuat di bagian sub komisi untuk
pencegahan dan perlindungan diskriminasi kelompok
minoritas PBB.
13
September
1993
LBH Yogyakarta mengirim surat berisi penanganan masalah
Jugun Ianfu Indonesia ke Menteri Sekretaris Negara
Moerdiono, Menteri Ali Alatas, Menteri Dalam Negeri Yogie
S. Memet dan Menteri Sosial Inten Suweno, namun tidak
mendapat tanggapan.
November
1993
24 anggota kongres Amerika Serikat menulis surat kepada
Perdana Menteri Hosokawa untuk melakukan investigasi
mengenai perbudakan seksual yang dialami Jugun Ianfu.
1993-1996
LBH Yogyakarta bekerjasama dengan LSM Jepang
mengadakan advokasi dan sosialisasi antara lain dengan
menggelar unjuk rasa dengan para korban dari negara lain
seperti : Filipina, Korea Selatan, Korea Utara dan Cina untuk
memprotes keras keberadaan dana perempuan Asia (Asian
Womens Fund-AWF) yang merupakan lembaga yang didirikan
oleh Pemerintah Jepang untuk mengurusi Jugun Ianfu yang
berarti melepas tanggung jawab pemerintah itu sendiri.
Disamping keberadaan AWF tidak dapat menyelesaikan
masalah, AWF juga melakukan manipulasi data dan
diskriminasi dalam mengakui keberadaan Jugun Ianfu.
19
|