Menggugat Negara Indonesia Atas Pengabaian Hak-Hak Asasi Manusia (Pembiaran) Jugun Ianfu Sebagai Budak Seks Militer dan Sipil Jepang 1942-1945 perempuan-perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu berasal dari beberapa negara, antara lain: Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Eurasia, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasiik. Dalam penelitiannya, Hayashi memperkirakan jumlah Jugun Ianfu pada saat perang berkisar antara 20.000 sampai 30.000 orang. Sedangkan menurut pengakuan dari beberapa Jugun Ianfu yang masih hidup, jumlah tersebut berada di batas atas dari angka di atas. Mengenai keberadaan rumah bordil (Ian Jo), kebanyakan berada di pangkalan militer Jepang, yang operasionalnya dijalankan oleh penduduk setempat dan bukan oleh militer Jepang. Meskipun begitu, pengontrolan tetap berada di tangan militer Jepang untuk memastikan “kebersihan” Jugun Ianfu, tentunya kebersihan yang dimaksud untuk kepentingan militer Jepang. b. Proil dan sebaran kuantitas Jugun Ianfu Pada saat ini, di Indonesia terdapat dua versi data mengenai jumlah korban yang berhasil didokumentasikan dari dua institusi berbeda, yaitu :  LBH Yogyakarta Data diperoleh berdasarkan pengaduan kasus yang sudah diterima LBH Yogyakarta pada periode 26 April -14 September 1996, dan tercatat sebanyak 1156 orang korban perbudakan seksual di seluruh Indonesia. Saat ini Jugun Ianfu yang masih hidup dan jelas keberadaannya di Jawa Tengah membentuk Forum Jugun Ianfu di beberapa kota, antara lain Yogyakarta, Semarang, Gunung Kidul, Magelang, Wonosobo, Temanggung, dan Karang Anyar (data hasil Pertemuan Konsolidasi Jugun Ianfu Yogyakarta, 19-20 Agustus 2005). Forum Jugun Ianfu tersebut merupakan stake holder dari LBH Yogyakarta yang menjadi kuasa hukum 1156 orang Jugun Ianfu Indonesia.  Forum ex-Heiho Indonesia Untuk memenuhi persyaratan kompensasi Jugun Ianfu dalam The | 2

Select target paragraph3