Ringkasan Eksekutif
militer Belanda selama 8 hari saja, dan sejak saat itu Hindia Belanda di bawah
kekuasaan militerisme Jepang.
Kedatangan bala tentara Jepang sempat disambut baik rakyat Indonesia
yang memimpikan kemerdekaan dari kolonialisme Belanda. Namun, impian
tersebut tidak pernah terwujud, justu tentara Jepang memaksa rakyat
Indonesia untuk mendukung mereka guna memenangkan perang di Asia
Pasiik. Dukungan yang dipaksakan tersebut antara lain berupa logistik dan
tenaga manusia untuk membangun infra struktur bagi proses pembangunan
pertahanan perang dan industri Jepang.
Pengerahan tenaga manusia secara paksa dilakukan dengan cara
mengumpulkan laki-laki berusia antara 16-40 tahun, dan perempuan berusia
16-25 tahun yang direkrut dari desa-desa2. Tenaga laki-laki dijadikan Romusa
(budak pekerja), sedangkan yang perempuan dijadikan Jugun Ianfu (budak
seks). Sebagian besar perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu, dipaksa dengan
cara-cara kekerasan, tipu muslihat dan ancaman/teror. Para perempuan
ini kemudian dimasukkan ke sebuah tempat khusus yang bernama Ian-jo
sebagai rumah bordil ala Jepang.
Beberapa bangunan Ian-jo yang dipakai untuk menampung perempuanperempuan yang dijadikan Jugun Ianfu antara lain bekas asrama peninggalan
Belanda, markas militer Jepang, dan rumah-rumah penduduk yang sengaja
dikosongkan. Tempat tersebut biasanya dijaga ketat oleh militer Jepang.
Perempuan yang telah dimasukan ke Ian-jo diberi kamar dengan nomor
kamar dan nama Jepang yang tertera di pintu kamar.
Militer Jepang tidak bekerja sendirian dalam melakukan operasi tersebut.
Mereka mendapatkan dukungan dari pejabat setempat seperti lurah dan
2.
News Letter Jugun Ianfu Vol ;Kimura, Koichi; 2000
xvii
|