Menggugat Negara Indonesia Atas Pengabaian Hak-Hak Asasi Manusia (Pembiaran) Jugun Ianfu Sebagai Budak Seks Militer dan Sipil Jepang 1942-1945 melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa barat, dan membutuhkan bantuan militer Jepang untuk membebaskan wilayah Selatan dari kolonialisasi Belanda tersebut. Kondisi ini di Indonesia ditandai dengan mulai bergeraknya orang-orang Jepang yang telah lama hidup di Indonesia pada periode kolonialisme Belanda. Mereka berusaha menarik simpati rakyat Indonesia jauh sebelum militer Jepang mendarat di Indonesia. Taktik dan strategi yang mereka gunakan cukup halus dan licik, yakni dengan memperlihatkan sikap yang sopan sehingga dapat menarik simpati rakyat Indonesia, karena sikap ini lebih santun dibandingkan dengan orang-orang Belanda yang tampak angkuh dan tinggi hati terhadap orang-orang pribumi. Sebelum Perang Dunia II, haluan politik luar negeri yang dianut Kekaisaran Jepang sudah menunjukkan keinginannya untuk melakukan ekspansi yang disebabkan oleh tiga faktor, antara lain kepadatan penduduk, kesulitan ekonomi (krisis ekonomi dunia 1930 membuat Jepang mengalami kekurangan bahan baku untuk perkembangan industri di dalam negeri), dan pertimbangan politik. Indonesia, dalam skenario Perang Pasiik 1931-1945, merupakan wilayah logistik bagi kekuatan perang militer Jepang, dengan pertimbangan bahwa perang modern menaklukan Asia Pasiik yang dilakukan militer Jepang tidak akan mungkin dilakukan tanpa persediaan minyak. Hindia Belanda (sekarang Indonesia) merupakan wilayah yang memiliki kandungan minyak yang besar di Asia. Tanggal 1 Maret 1942 militer Jepang mulai mendaratkan balatentaranya di daerah Banten, Eretan Wetan (Indramayu) dan di sekitar Lasem (Rembang). Militer Belanda yang berkekuatan 3 divisi tidak kuat menghadapi gempuran kekuatan besar militer Jepang. Pulau Jawa hanya berhasil dipertahankan | xvi

Select target paragraph3