RINGKASAN EKSEKUTIF
D
i Jepang terdapat pepatah kuno yang berbunyi “HokojinNanbutsu“ (Bangsa di Utara, Bahan di Selatan). Utara dalam
hal ini berarti Barat yang modern, dan Selatan berarti Asia yang
terbelakang. Bagi Jepang Modern, Utara merupakan sumber
ilmu pengetahuan, teknologi dan sasaran yang harus dijangkau atau bahkan
dilampaui. Sedangkan Selatan selalu dipandang sebagai jalur hidupnya.
Intelektual terkenal Jepang, Kenichi Goto, mencatat bahwa Jepang berusaha
menguasai bahan-bahan di Selatan melalui jalan diplomatis, ancaman maupun
penggunaaan kekerasan dan anjuran untuk menyetujui Asianisme1. Hasrat
untuk memperoleh bahan-bahan dari Selatan ini menandai perilaku “Jepang
Modern” di Asia semenjak Perang Cina-Jepang tahun 1894-1895, melalui
pendudukan militer atas seluruh wialyah Laut Selatan (Asia Tenggara).
Sebelum Jepang Modern memiliki kesadaran bahwa di bagian Selatan juga
terdapat “bangsa”, puluhan ribu orang Jepang yang bukan merupakan
arus dari “Jepang Modern” sudah terlebih dahulu hijrah ke Selatan karena
faktor ekonomi. Mereka dari golongan pedagang dan petani yang berpindah
dan bermukim di Selatan. Tahun 1930 merupakan tahun kebangkitan bagi
arus gelombang Asianis di wilayah Selatan. Orang-orang Jepang yang telah
berbaur di Selatan menyadari sepenuhnya akan hasrat orang pribumi untuk
1.
Asianis ; di Jepang berarti desakan agar bangsa-bangsa Asia bersatu di bawah pimpinan Jepang,
demi menolak masuknya bangsa-bangsa Barat
xv
|