76 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n menopang tubuh ini. Lemas terduduk sambil menangis meratapi nasib. Mengapa seperti ini, bagaimana hidup akan berlanjut, bagaimana nasib anak-anakku nanti. Mungkinkah bernasib sama sepertiku atau malah lebih tragis.” (Rahayu, Perempuan Semende, Wawancara, Dusun Lame Banding Agung Semende, 19 Juli 2014). Rahayu menceritakan sambil menangis. Sesekali ia gunakan tangan untuk mengusap air matanya. Ia berkata: “air mata ini baru kali ini kukeluarkan kembali setelah melihat sisa-sisa debu dangau di tahun 2012.” Seorang perempuan lainnya, Rita (25 tahun) menuturkan, saat peristiwa terjadi, anaknya masih berusia 1 tahun, dan seluruh pakaian bayi milik anak laki-lakinya ditemukannya terbakar. Hatinya hancur, sebagai keluarga muda, tidak mudah baginya menyediakan perlengkapan bayi. Bukan cuma persoalan uang, tetapi juga soalnya sulit mendapatkan pakaian bayi di tengah-tengah belantara kebun kopi dan hutan. Sedikit yang tinggal dan menyaksikan peristiwa pembakaran tersebut dengan hati perih. Seorang di antaranya menyatakan dengan ekspresif. “Aku bingung menemukan bendera merah putih dikibarkan di situ. Bendera ini milik siapa? Aku pegang bendera itu, bingung! Apa artinya kami di sini. Dianggap musuh di antara bangsa sendiri. Entah berapa ton padi dihancurkan. Entah berapa banyak kopi dihanguskan. Rumah-rumah dibakar. Ayam ditangkap dan dipanggang mereka. Beras-beras ditabur di halaman, bantalbantal dibelah, minyak-minyak ditumpahkan. Baju-baju diserakkan. Uang yang hanya Rp300.000,- pun diambil. Kolam dibongkar ikannya. Pada tahun 2012, malam itu langit merah. Kalau tidak mengungsi ke kampung, ya masuk hutan bersama bayi-bayi.” (Amat, 31 tahun, laki-laki, wawancara, Banding Agung Semende, 23 Oktober 2014). Kembali ia menambahkan dengan pilu : “Menangis, lihat langit rasanya mau roboh. Nangis, marah!! Yang masuk sini binatang semua!!. Melihat padi terbakar, membumbung asapnya ke atas. TPS 2 di mana kita memilih juga lenyap. Yang membakar itu pakai topeng. Tapi pakai baju berwarna hijau.54” (Amat, 31 tahun, laki-laki, wawancara, Banding Agung Semende, 23 Oktober 2014). 54 Baju hijau dipersonifikasikan masyarakat Banding Agung Semende sebagai Polhut TNBBS.

Select target paragraph3