SUMAT E R A
Bagi perempuan adat Banding Agung Semende tanah adalah segalagalanya. Kehidupan sebagai petani membuat perempuan mengembangkan
kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap tanah. Semasa kopi
baru ditanam, biasanya perempuan dan laki-laki Banding Agung Semende
sama-sama menanam padi. Setidaknya, setelah membuka hutan padi
sawah atau padi ladang ditanam sebanyak 2 kali. Padi bertumpang sari
dengan tanaman kopi. Setelah kopi mulai bertunas rantingnya, tidak bisa
lagi ditanami padi sehingga harus dihentikan pada panen padi kedua.
Dua tahun terakhir, petani Banding Agung Semende tidak bisa lagi
menanam padi karena lahan tidak bisa lagi dibuka. Akhirnya petani
Banding Agung Semende kini harus membeli beras, padahal
sebelumnya sudah memenuhi kebutuhan beras dari ladangnya sendiri.
Biasanya, setelah usai masa menanam padi, kopi ditumpangsarikan
dengan cabai rawit. Dua minggu sekali, perempuan-perempuan Banding
Agung Semende akan memanen cabai rawitnya dan dibawa ke pasar
oleh laki-laki. Setidaknya, sekali panen akan menghasilkan hingga 30 kg
cabai rawit. Cabai rawit ini harus segera dijual, bila terlalu lama
akibatnya cabai akan menghitam dan membusuk. Kesulitan pascapanen
ketika akan dijual menuju ke pasar yang jaraknya sangat jauh sekali.
Sering sekali karena gangguan di jalan, sepeda motor yang rusak, atau
terjebak hujan sehingga perjalanan ke pasar terkendala. Akhirnya harus
pasrah dengan cabai rawit yang membusuk dan tidak laku terjual.
Namun, bila tidak ada halangan, cabai bisa dijual dengan harga
bervariasi tergantung harga pasar. Bila sedang mahal, petani bisa
mendapatkan harga tertinggi sebesar Rp10.000,- dan bisa membawa
pulang Rp300.000,-. Namun tak jarang harga cabai rawit bisa jatuh
hanya Rp500,-/kg. Bila sudah begini, biasanya perempuan-perempuan
membiarkan saja cabai rawit tersebut membusuk di pohonnya.
Bagi masyarakat adat Banding Agung Semende, khususnya perempuan,
panen raya kopi adalah peristiwa yang sangat penting. Oleh karena di
masa ini mereka mendapatkan rezeki atas jerih payahnya setelah
bersusah payah merawat tanaman kopi tersebut setiap hari dalam
setiap tahunnya. Perempuan adat Banding Agung Semende memegang
peranan penting dalam distribusi sumber daya karena perempuanlah
yang memegang hasil penjualan kopi maupun cabai tersebut. Biasanya,
perempuan turut menentukan hendak ke mana uang tersebut ditujukan.
Kopi menjadi sangat penting dalam kelestarian hidup fisik dan nonfisik
perempuan dan anak-anak Banding Agung Semende. Bila kopi hilang,
maka hilanglah sumber penghidupan masyarakat adat khususnya
perempuan dan anak-anak Banding Agung Semende.
65