SUMAT E R A yang ikut dalam pertemuan itu, dan mengaku seorang camat (laki-laki). Perdebatan via telepon terjadi. Si Camat mengawali pertanyaan seputar rencana demonstrasi warga desa tetapi pembicaraan menjadi bertele tele. “Putusan MK 35 itu kan belum ada peraturan pelaksanaannya, sabarlah kita menunggunya,” kata seseorang di dalam telepon itu, terkesan mengajari kepala desa tentang undang undang. Ibu Oppu Putra menyelutuk dengan nada keras, “Malas saya mendengar-dengar kalian itu, matikan saja teleponnya”. Tetapi seorang laki-laki di antara peserta rapat segera menimpali, “eh unang songoni hamu inang - Eh jangan begitu Ibu, nanti apa yang kau bilang itu berdampak buruk terhadap perjuangan kita,” katanya bernada melerai. Pembicaraan kepala desa masih terus berlanjut dengan orang di seberang sana yang mengaku camat itu. Karena peserta rapat semakin gelisah, akhirnya kepala desa berjalan ke luar ruangan dan melanjutkan komunikasinya dengan camat. Rapat kemudian dilanjutkan. Dapur dan Hancurnya Sekolah Anak-Anak Sore di hari Sabtu, minggu terakhir bulan Agustus 2014, Op. Dimpos br Hombing, 58 tahun, mulai menyortir hasil kemenyan yang baru dibawa pulang oleh suaminya, Haposan Sinambela, dari tombak haminjon. Seperti biasa suaminya pulang di hari Sabtu, setelah 5 hari berada di hutan untuk mengumpulkan kemenyan dari tombak yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari rumahnya. Guratan umur yang semakin menua terlihat jelas di wajah ibu yang memiliki enam anak ini. Sambil sesekali terbatuk batuk, Ibu br Hombing ini menjelaskan kesulitan kesulitan yang dialami setelah suaminya hanya membawa hasil panenan separuh dari biasanya, setelah Toba Pulp Lestari menebangi hutan kemenyan di tombak Haminjon itu. “Dulu suami saya membawa hasil panen sekitar 20 kilo per minggu, tetapi sekarang hanya dapat empat hingga lima kilo. Biasanya saya pergi ke pasar di Dolok Sanggul untuk menjual ke toke besar. Tetapi sekarang ngga lagi, tanggung untuk dibawa, jadinya saya jual ke tengkulak pengumpul yang datang ke desa.” “Sekarang saya hanya menyortir empat hingga lima kilo per minggu. Saya menyortirnya menjadi tiga tumpuk. Yang paling bagus, Tangkasan, harganya 130.000 hingga 150.000 per kilo. Tumpukan kedua namanya Tahir, harganya 80.000 per kilo, 7

Select target paragraph3