Pandumaan dan Sipituhuta vs
TPL di Sumatera Utara:
Tangis Kemenyan, Amarah
Perempuan
Ü Saurlin Siagian dan Trisna Harahap
”Amarah tidak tertahankan lagi. Tersiar kabar desa kami akan
digeledah oleh polisi untuk menangkap kaum bapak yang
disangka merusak alat-alat berat TPL. Saya dan ibu-ibu lainnya
berbegas ke persimpangan Jalan Marade. Kami membawa kayu
sebagai senjata di tangan. Bukan hanya itu, tidak banyak yang
tahu kami masing masing membawa belati dapur yang kami
selipkan di sarung. Kami sudah siap mati.” (Wawancara Op.
Putra boru, Perempuan adat dari Sipituhuta, 8 oktober 2014)
“Setelah hutan dirusak oleh TPL selama 5 tahun, yang paling
terasa adalah hilangnya orientasi waktu di hutan. Burung dan
serangga menjadi penanda waktu buat kami. Burung etet akan
berkicau jam 4 pagi membangunkan kami dari gubuk di hutan.
Burung ini juga akan berkicau pada siang hari untuk
mengingatkan kami makan siang. Sementara sese atau ernga
akan berbunyi pada sore hari mengingatkan kami akan sore hari.
Namun sekarang kedua binatang itu sudah hilang dari hutan,
karena pepohonan telah diganti eukaliptus” (Diskusi terfokus di
Desa Pandumaan, 8 Oktober 2014)
3