86 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n Diskriminasi Masyarakat Adat Banding Agung Semende Atas Layanan Publik dan Pembangunan Perempuan Semende memiliki visi luar biasa. Rabiah Mulana,58 menyebutkan visi perempuan Semende, dengan bahasa sederhana, tetapi penuh makna. “Saya ingin berkesempatan melihat mobil naik ke sini” (Rabiah Mulana, 45 tahun, Perempuan, Wawancara, 22 Oktober 2014). Tuturannya mewakili kerisauan perempuan-perempuan Semende lainnya. Betapa tidak, mimpi itu masih sangat jauh ke depan, sangat bertolak belakang dengan kondisi saat ini di Banding Agung Semende. Masyarakat adat mempertahankan subsistensinya selama 15 tahun berjuang. Tidak ada fasilitas apa pun di dusun ini. Tiga kali Pemilu suara masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan politik, memberikan suara untuk Pileg, Pilpres, dan Pilkada. Namun, hak-haknya sebagai warga negara selalu abai dipenuhi negara. Jangan pernah bermimpi ada listrik di Dusun Lame Banding Agung Semende. Bahkan genset yang mereka miliki secara swadana dibakar oleh Polhut TNBBS. Hanya ada 3 buah genset tersisa yang selamat di 3 talang berbeda yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Masyarakat pun tidak berani menghidupkannya, karena menghidupkan lampu berarti mengundang Polhut TNBBS. Kehidupan bisa berubah sewaktu-waktu karenanya. Jangan juga berani bermimpi ada fasilitas sekolah dan anak-anak Semende memakai seragam dan bersekolah. Jangan pula bermimpi akan menemukan layanan kesehatan paling sederhana, seperti Posyandu dan Poskesdes di Dusun Lame ini. Itu mimpi yang tidak terbeli oleh perempuan dan masyarakat adat Dusun Lame Banding Agung Semende. Karenanya sebagian besar perempuan dan laki-laki Dusun Lame Banding Agung Semende buta huruf. Sekolah jauh yang semula tersedia di Dusun Lame Banding Agung semende juga dibakar Polhut TNBBS pada tahun 2012. Anak-anak lelaki dan perempuan remaja umur 17—18 tahun sudah menikah dan memiliki bayi. Bahkan penulis menemukan kasus perempuan yang sudah menikah pada umur 13 tahun di Dusun Lame ini. Masyarakat juga tidak memiliki akses terhadap beragam program bantuan yang ada, beras miskin, PKH, Jaminan 58 Rabiah adalah sebutan yang diberikan masyarakat adat Banding Agung Semende kepada penolong kelahiran. Saat ini rabiah disana adalah Ibu Mulana (45 tahun).

Select target paragraph3