MANUAL PESERTA MODUL PELATIHAN NPM 5 LEMBAGA
lapar, dan masih belum bisa menghubungi siapapun. Siang itu Tini masih
menjalani pemeriksaan dan dipaksa untuk mengaku bahwa ia adalah
pengedar narkoba dan bekerjasama dengan suaminya yang dituduh
sebagai pengedar juga. Setiap Tini membantah, maka saat itu juga polisi
memukul meja dengan keras sambil membentak dirinya. Ia hanya bisa
menangis, dan terus bentakan demi bentakan bermunculan. Tini hanya
ingat, ada 1 polisi yang kemudian menendang perutnya sambil berkata “ayo
ngaku kalau kamu ikut ngebantu suami jadi pengedar narkoba, kalau tidak
kamu akan keguguran...”. Karena sudah sangat lelah, Tini diminta untuk
menandatangai berkas yang ada di depannya tanpa ia baca lagi.
Ketika menjalani proses persidangan, Ia hanya diberitahu bahwa statusya
adalah tersangka pengedar narkoba dan dituduh membantu peredaran
narkoba dari suaminya. Suami Tini pun sedang dicari oleh polisi. Hingga
proses persidangan pun, Tini tidak didampingi oleh pengacara, bahkan
anggota keluarganya pun tidak pernah datang menjenguknya. Ia dijatuhi
hukuman 10 tahun penjara.
Bayinya lahir ketika Tini menjadi tahanan di Rutan dan melahirkan di RS
Polisi. Setelah melahirkan kemudian kembali ke Rutan. Selama menjalani
masa tahanan, Tini sangat stress sehingga ASI pun tidak keluar, dan
bayinya pun sering menangis karena lapar. Ketika malam hari, bayinya
sering menangis karena panas dan lapar, maka Tini pun sering dibentak
oleh sesama penghuni sel, tidak jarang dia pun dipukul, ditendang dan
dilempar barang. Tini hanya diam, berusaha memahami keadaan yang ada,
karena dia pun harus berbagi ruangan dengan 15 penghuni lainnya.
Tini ingat bahwa ibu dan pamannya datang menjenguknya ketika ia sudah
dipindahkan ke Lapas. Hanya 1 kali itu dia bertemu dengan keluarganya,
dan pada saat itu juga bayinya diserahkan ke ibunya untuk dirawat.
Karena di Rutan maupun di Lapas ketika bayinya sakit, tidak ada fasilitas
pengobatan, dia tidak bisa menyusui bayinya karena memang ASI sudah
tidak keluar. Bayinya hanya makan makanan yang sama dengan dirinya,
yakni makanan yang diberikan oleh petugas. Tini sama sekali tidak memiliki
uang, sehingga ia pun tidak bisa membelikan makanan tambahan/susu
kemasan yang dijual di kantin Rutan.
Tini bercerita sejak bayinya di bawa oleh ibunya, hingga saat ini, ia
tidak pernah lagi dikunjungi sanak keluarganya. Untuk mengobati rindu
terhadap bayinya, Tini sering mengikuti pelatihan merangkai bunga kertas
dan membuat tas manik-manik yang sering diajarkan di Lapas. Pelatihan
itu seperti “oase” baginya, karena dapat mengobati kebosanannya, karena
kalau malam, ia hanya bisa menangis dalam hati sambil membayangkan
wajah bayinya, menunggu tubuhnya lelah dan tertidur sambil duduk dan
berbagi dengan 25 penghuni di dalam 1 sel.
| 36