3.
a.
Fase ketiga antara tahun 1950-1998. Fase ini bisa dilihat dari tiga periode:
Di masa ini, kesadaran identitas kelompok kian menguat. Sebagai contoh,
kelompok mistis Jawa makin menyadari keyakinannya sebagai bentuk perlawanan terhadap Islam modern. Sementara kelompok abangan yang sering diasosiasikan dengan komunis makin menyadari posisinya berlawanan dengan
penguasa tanah dan priyayi. Adapun di dalam kelompok Islam pun terbelah
dengan adanya denominasi yang berhasil menyatukan antara abangan dan
priyayi modern, dan denominasi ini merupakan perlawanan terhadap kongregasi Islam yang sudah ada. 2
Di kalangan penganut Aliran Kebatinan, pada tahun 1951, Wongsonegoro telah
aktif mengorganisasikan kelompok-kelompok kebatinan dalam Panitia Penyelenggara Pertemuan Filsafat dan Kebatinan. Selain itu pengorganisasian juga
dilakukan dalam partai politiknya, yaitu Partai Indonesia Raya (PIR) dengan
mendatangi pelbagai sekte mistik sambil mengajak mereka untuk berorganisasi di bawah pengayomannya.
Di periode ini pula muncul PP No. 10 tahun 1959 tentang Larangan bagi Usaha
Perdagangan Kecil dan Eceran yang bersifat Asing di luar Ibukota Daerah
Swatantra Tingkat I dan II serta Karesidenan, yang berdampak pada makin
terpinggirkannya warga Tionghoa Indonesia.
b.
Sejalan dengan visi modernisasi inilah maka “masyarakat terasing” dianggap
sebagai tidak modern atau belum beradab dan seringkali disebut “belum
beragama”. Tradisi lokal dianggap sebagai penghambat pembangunan sosial
ekonomi. Namun tradisi lokal dimasukkan ke dalam kerangka pembangunan
untuk melegitimasi pembangunan itu sendiri. Tradisi lokal juga kemudian
dilepaskan dari latar belakang budaya menjadi sekedar ritual atau upacara.
Bahkan Suharto memiliki idiom “agama pembangunan” dimana Hefner menggambarkan bahwa religiusitas Indonesia terjadi di masa Orde Baru yang
menekankan pada Ketuhanan dan keyakinan untuk mengganti festival ritual
2 Niels Mulder. Mysiticism in Java: Ideology in Indoneisa. Kanisius, 1993. Pg. 20-25.
28
UPAYA NEGARA MENJAMIN HAK-HAK KELOMPOK MINORITAS
DI INDONESIA SEBUAH LAPORAN AWAL