99
BACAAN 2 : SEJARAH HAK ASASI MANUSIA
meletakkan fondasinya di atas prinsip-prinsip tersebut. Penyelenggara
kekuasaannya harus menjunjung hak-hak tersebut, sehingga rakyat dapat
merasakan keamanan dan kebahagiaannya.
Ini tentu saja sebuah tantangan dan bukan tindakan hukum: ini
merupakan pembukaan doa-doa pengaduan terhadap tirani dari George
III, yang mengingatkan kepada apa yang dibuat dalam Bill of Rights, 1688,
terhadap raja-raja Stuarts. Ada keluhaii terhadap ketidakadilan lembagalembaga peradilan dan hakim-hakim penjilat. Sebab, meskipun dinyatakan
bahwa semua manusia diciptakan sama, namun kenyataannya sulit disejajarkan
dengan budak-budak yang dimiliki oleh negara-negara penanda tangan.
Pembukaan dari Jefferson inilah yang menggema ke abad selanjutnya, yang
secara jelas menunjukkan bahwa pengingkaran terhadap hak asasi manusia
sebagai suatti justifikasi bagi revolusi telah diperkirakan sebelumnya oleh John
Locke. Hak-hak fundamental atas kehidupan, persamaan, kebebasan dan
pencapaian kebahagiaan tersebut tidak datang begitu saja, namun diberikan
oleh Tuhan sebagai bukti dari keberadaan manusia itu sendiri. Hal ini tentu
saja bukan akhir dari penjelajahan filosofis, melainkan titik awal yang menjadi
tugas pemerintah untuk menata dan mengoptimalkan tujuan dari pemenuhan
pencapaian hak-hak individu tersebut.
Catatan penindasan terhadap hak-hak asasi manusia oleh pemerintah,
menggainbarkan sejarah penderitaan dan penyiksaan yang tedadi berulangulang. Itulah yang menjadi alasan bagi perlawanan terhadap kesetiaan Mahkota
Kerajaan Inggris. Dengan alasan ini pula maka (Deklarasi Kemerdekaan)
menjadi momen historis untuk melakukan perlawanan terhadap penguasa
yang sesungguhnya merupakan inti ajaran langsung dari Locke. Deklarasi ini
berbicara lebih keras dalam hal konsekuensinya dibandingkan dengan lainnya
dalam sejarah karena menegaskan pernyataan-pernyataan yang berpihak pada
kaum tertindas untuk menegakkan hak-haknya.
Keberadaan hak-hak yang tak dapat dicabut kemudian diakomodir
oleh konstitusi Amerika Serikat, 1789. Ini juga jaminan bagi Habeas Corpus
dan peradilan yang jujur serta amandemen yang menyertainya 2 (dua)
tahun kemudian. Amandemen pertama mengemukakan bahwa Kongres
tidak boleh membuat satu hukum yang melarang pengamalan agama secara
MA N UA L P E L AT I H A N DA S A R H AM
: PEGANGAN PARTISIPAN - K O M N A S H A M 2 0 1 5
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents