95 BACAAN 2 : SEJARAH HAK ASASI MANUSIA terbesar merupakan hak-hak anggota parlemen untuk memveto keputusankeputusan raja apabila memungut pajak baru dan juga untuk menikmati kebebasan berdebat tanpa penuntutan di hadapan hakim-hakim Raja. Tetapi, dengan menyatakan bahwa mereka adalah wakil rakyat sepenuhnya dan bebas dipadukan dengan untuk mempertahankan dan menegaskan hak-hak dan kebebasan-kebebasan lama’, Lords dan Commons diakui sebagai hak-hak negara yang diperoleh melalui ketentuan-ketentuan – seperti adat dan tradisi - yang ditegakkan oleh pengadilan. Namun yang Paling utama, ada hak para warga negara untuk hidup di bawah perlindungan hukum yang telah diputuskan oleh Parlemen tanpa campur tangan raja; hak untuk mendapatkan proses yang seharusnya melalui seleksi juri; hak untuk tidak kehilangan kebebasan karena pengaturan jaminan yang terlampau tinggi; dan hak untuk tidak dihukum dengan hukuman yang kejam dan tidak lazim. Tahun 1679, Habeas Corpus Act telah memberikan hak yang yang paling bernilai dan abadi bagi semua orang, yaitu hak untuk memiliki dasar hukum bagi suatu penahanan, yang juga harus segera diuji di depan pengadilan. Hak-hak ini masih memiliki resonansinya, meskipun dipahami dengan cara yang membingungkan oleh para anggota parlemen pada Abad XVII. Misalnya, larangan terhadap hukuman yang kejam dan tidak lazim terhadap kejahatan publik dalam kasus seorang rohaniwan dan pembuat sumpah palsu bernama Titus Oates. Dengan kebohongan-kebohongannya, ia menyebabkan puluhan orang Katolik mati di tiang gantungan. Waktu itu, Titus Oates dipecat dan dicambuk di depan umum. Hukuman ini dinilai sebagai penghinaan dan tidak lazim bagi seorang pendeta Gereja Inggris oleh para penganut Protestan yang fanatik. Bentuk-bentuk hukuman lainnya pada waktu itu, antara lain adalah pemotongan alat kelamin, pembakaran isi perut, penyeretan dan penjagalan. Gagasan bahwa hukuman tersebut kejam dan tidak masuk akal tidak pernah masuk di kepala orang-orang yang hidup pada abad XVII. Oleh karena itu, aturan paling awal dari upaya menginterpretasikan terhadap Bill ofrights adalah: pemahaman bahwa konsep-konsep tersebut telah berkembang menjadi pengertian yang merefleksikan nilai kemanusiaan modern daripada pemahaman kontemporer yang ada pada saat pertama kali deklarasi tersebut diformulasikan. Bill of Rights dinilai lebih modern dan manusiawi dan menjadi titik awal menuju revolusi hak asasi manusia tidak lepas dari dasar-dasar filosofis yang dipancangkan melalui karya Thomas Hobbes, yang penjabarannya dilanjutnya MA N UA L P E L AT I H A N DA S A R H AM : PEGANGAN PARTISIPAN - K O M N A S H A M 2 0 1 5

Select target paragraph3