Pada awal-awal menjalani masa hukuman, Ciro ditempatkan di sel berisikan 20 orang.
Jika malam hari, hanya bisa tidur sambil duduk dan bertelanjang dada karena memang
sangat panas. Tidak jarang, Ciro di suruh “melayani” penghuni sel yang lebih senior dan
dianggap berkuasa di dalam sel bernama Ciko karena dia penghuni baru, paling muda
usianya dan tidak berani melawan. Pernah 1 kali ia bertanya kepada sesama penghuni
sel bernama Cokro mengapa hanya dia yang sering dipaksa “melayani” kebutuhan Ciko,
sedangkan yang lain tidak. Cokro hanya memberitahu “itu karena kamu masih muda,
kulitmu putih dan wajahmu cukup ganteng”. Tidak ada penjelasan apapun dari Cokro.
Seiring dengan perjalanan waktu, Ciro sudah tidak pernah lagi di suruh “melayani”,
karena Ciko sudah dipindahkan ke sel yang tidak dapat di jenguk siapapun, dan tanpa
ada komunikasi dari siapapun. Ciro merasa sedikit “terbebas”. Ia pun berusaha menjalani
hari-harinya di Rutan tersebut. Ketika ia di jenguk oleh sanak keluarganya, ia pun
memperoleh uang (yang jumlahnya tidak seberapa) dan makanan. Makanan tersebut
sudah pasti akan habis di makan bersama-sama oleh sesama penghuni sel. Uang yang
diperolehnya tersebut digunakan untuk membayar tamping, agar ia mudah dan cepat
dipanggil ketika keluarganya datang. Uang tersebut juga digunakan untuk membayar
air minum yang dijual Rp. 20.000.
Pernah satu kali, ada sesama penghuni yang mengetahui bahwa Ciko memiliki uang
lebih, yang diperoleh dari keluarganya. Uang tersebut diminta dengan paksa oleh
penghuni lainnya, istilahnya adalah “setoran”. Pernah ia melawan mempertahankan
uang tersebut, tetapi justru ia terlibat perkelahian dengan sesama penghuni sel.
Akibatnya ia dimasukkan ke dalam sel tikus sebagai bentuk hukuman. Bisa berhari-hari
ia berada di dalam sel tersebut.
Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan pada siang hari. Kadang-kadang ia diminta
memasak di dapur. Jika sudah bertugas di dapur, maka subuh, ia sudah berada di
dapur, hingga malam. Ada banyak hal yang dilakukan, dan memasak dalam jumlah yang
banyak. Tidak perlu ketrampilan memasak. Hanya mengikuti perintah dari mereka yang
bertugas dan dianggap senior atau “kepala dapur”. Jika ia melawan dari kepala dapur
atau petugas, maka “sel tikus” pun akan menanti.
Ia pun sering terlibat perkelahian dengan sesama penghuni, jika sudah ada keributan,
maka mereka yang terlibat akan di hukum oleh petugas. Bisa dengan dipukul dengan
tongkat hingga berdarah, “dijemur”, tidak ada jatah makanan atau yang paling berat
adalah dimasukkan di “sel tikus” tanpa ada makanan. Ia juga pernah terlibat perkelahian
dengan petugas dan sesama penghuni, ia merasa terhina ketika diminta melepas baju
dan celana dan disuruh jalan jongkok menuju selnya, hanya karena ia belum membayar
(berhutang) air minum yang ia beli dari petugas (Ciko mengaku ia cukup sering
berhutang). Ia melawan, yang ada malah ia dipukul oleh petugas dengan kayu hingga
giginya patah 1. Sakitnya luar biasa. Baginya menerima pukulan, dan dimasukkan
kedalam sel tikus menjadi biasa.
MANUAL FASILITATOR Modul Pelatihan Npm 5 Lembaga | 37