keguguran...”. Karena sudah sangat lelah, Tini diminta untuk menandatangai berkas
yang ada di depannya tanpa ia baca lagi.
Ketika menjalani proses persidangan, Ia hanya diberitahu bahwa statusya adalah
tersangka pengedar narkoba dan dituduh membantu peredaran narkoba dari suaminya.
Suami Tini pun sedang dicari oleh polisi. Hingga proses persidangan pun, Tini tidak
didampingi oleh pengacara, bahkan anggota keluarganya pun tidak pernah datang
menjenguknya. Ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.
Bayinya lahir ketika Tini menjadi tahanan di Rutan dan melahirkan di RS Polisi. Setelah
melahirkan kemudian kembali ke Rutan. Selama menjalani masa tahanan, Tini sangat
stress sehingga ASI pun tidak keluar, dan bayinya pun sering menangis karena lapar.
Ketika malam hari, bayinya sering menangis karena panas dan lapar, maka Tini pun
sering dibentak oleh sesama penghuni sel, tidak jarang dia pun dipukul, ditendang dan
dilempar barang. Tini hanya diam, berusaha memahami keadaan yang ada, karena dia
pun harus berbagi ruangan dengan 15 penghuni lainnya.
Tini ingat bahwa ibu dan pamannya datang menjenguknya ketika ia sudah dipindahkan
ke Lapas. Hanya 1 kali itu dia bertemu dengan keluarganya, dan pada saat itu juga bayinya
diserahkan ke ibunya untuk dirawat. Karena di Rutan maupun di Lapas ketika bayinya
sakit, tidak ada fasilitas pengobatan, dia tidak bisa menyusui bayinya karena memang
ASI sudah tidak keluar. Bayinya hanya makan makanan yang sama dengan dirinya, yakni
makanan yang diberikan oleh petugas. Tini sama sekali tidak memiliki uang, sehingga
ia pun tidak bisa membelikan makanan tambahan/susu kemasan yang dijual di kantin
Rutan.
Tini bercerita sejak bayinya di bawa oleh ibunya, hingga saat ini, ia tidak pernah
lagi dikunjungi sanak keluarganya. Untuk mengobati rindu terhadap bayinya, Tini
sering mengikuti pelatihan merangkai bunga kertas dan membuat tas manik-manik
yang sering diajarkan di Lapas. Pelatihan itu seperti “oase” baginya, karena dapat
mengobati kebosanannya, karena kalau malam, ia hanya bisa menangis dalam hati
sambil membayangkan wajah bayinya, menunggu tubuhnya lelah dan tertidur sambil
duduk dan berbagi dengan 25 penghuni di dalam 1 sel.
KASUS 2
CIRO DAN SEL
TIKUS
Ciro, laki-laki berusia 22 tahun yang berada di Rutan Kelas IIB Kapasan. Dia sudah berada
disana selama 5 tahun karena penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal.
Kasusnya bermula ketika dia bersama dengan 3 kawannya berkelahi di pasar, dan salah
satu dari kawannya tersebut meninggal dunia. Ciro dan 2 kawan lainnya kemudian
menjalani proses persidangan.
MANUAL FASILITATOR Modul Pelatihan Npm 5 Lembaga | 36