BAB IV D I N A M I K A L I N G K U N G A N S T R AT E G I S pemberontakan daerah sebagaimana yang telah terjadi di dalam sejarah politik bangsa periode 1950-an, dan konflik vertikal seperti yang terjadi di Aceh, Maluku dan Papua. Aspek Dinamis, yakni terdiri dari hal-hal yang diasumsikan melekat melekat pada kehidupan bernegara, yang di antaranya: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan & keamanan. Aspek-aspek tersebut dikenal dengan sebuatan pancagatra, yang bersifat dinamis dan bersentuhan langsung dengan TAHG. • Gatra Ideologi 42) Letak geografis Indonesia yang sedemkian rupa itu, maka secara otomatis akan mendorong Indonesia kian terintegrasi ke dalam kawasan regional dan global. Hal demikian tentunya berimplikasi pada bagaimana sebuah negara dan bangsa berideologi, yang mana berkorelasi langsung pada kondisi berPancasila. Tantangan berideologi adalah, menurut Djelatik: “Masyarakat sudah semakin menyadari bahwa nasionalisme sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan manusia dan kebutuhan dasar politik manusia. Banyak masalah yang tengah dihadapi bangsa-bangsa di dunia bersifat global.” 43) Sementara, di lain pihak, ada pandangan bahwa nasionalisme semakin dibutuhkan di era global justru untuk menangkal implikasi-implikasi dari globalisme yang negatif. Dalam konteks Indonesia, Magnis-Suseno mengatakan: “Andaikata rasa kebangsaan itu mati, bangsa Indonesia akan mati dan negara hancur: Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, 42) Wikipedia: “Ideologi adalah ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Antoine Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.” https://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi 43) Pemikiran demikian justru melihat peran regionalisme semakin penting karena menjadi pengantara nasionalisme dan globalisme. Djelantik. Edt. 2015. Asia Pasifik: Konflik, Kerjasama, dan Relasi Antarkawasan. Jakarta: Universitas Katolik Parahiyangan dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015. Halaman 30. 44) Magnis-Suseno mensyaratkan bahwa, pertama, modalkebangsaan itu harus dipakai tidak dengan nasionalisme yang picik; dan kedua, tidak perlu mengkhawatirkan rakyat karena permasalahannya terletak pada elite. Magnis-Suseno. Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2015. Halaman 186. 84 Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional

Select target paragraph3