BAB II
NASIONALISME
Kedua, apabila bandul bergerak ke kanan menunjukkan kesadaran
berideologi menjadi sangat kuat sehingga ke tingkat kesadaran
chauvinistik16)muncul.Dalam kondisi demikian, maka aparat negara
menjadi aktor negara yang potensial melakukan pelanggaran hak asasi
manusia (demi tegaknya negara). Oleh karena itu, berideologi pada
Pancasila, menurut Soekarno membuat setiap individu warganegara harus
senantiasa waspada, penuh kontrol diri, agar bandul ideologinya tidak
bergerak ke kiri dan ke kanan, melainkan senantiasa dijaga agar tetap
berada di tengah, sebagai posisi yang ideal untuk dapat hidup dalam berPancasila.
Tabel 1: Transformasi Pancasila Dari Usulan Soekarno ke Rumusan
Panitia Sembilan
URUTAN
USULAN SOEKARNO
PANITIA 9 : PEMBUKAAN UUD 45
1
Kebangsaan Indonesia
Ketuhanan Yang Maha Esa
2
Internasionalisme atau
perikemanusiaan
Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab
3
Demokrasi (dengan
makna permusyawaratan dan perwakilan)
Persatuan Indonesia
4
Keadilan Sosial
Kerakyatan yang Dipimpin
oleh Hikmah Kebijaksanaan
dalam Permusyawa- ratan
dan Perwakilan
5
Ketuhanan Yang Maha
Esa
Keadilan Sosial
KETERANGAN
Sila yang mempersatukan
Untuk menegaskan pada
pihak Jepang keinginan
bersatu
Sumber: Diolah dari Hatta, Untuk Negeriku. Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2015. Jilid 3, halaman 66.
16) “Chauvinisme merupakan satu jenis permusuhan, yang menyembunyikan ketidakmampuan seseorang untuk membangun hubungan dengan yang lain secara setara.” Scruton, 2013:122.Sauvinisme
atau sovinisme (bahasa Inggris: chauvinism) adalah ajaran atau paham mengenai cinta tanah air dan
bangsa (patriotisme) yang berlebihan. Makna ini kemudian diperluas hingga mencakup fanatisme
ekstrem dan tak berdasar terhadap suatu kelompok yang diikuti. Istilah ini diambil dari nama Nicolas
Chauvin, seorang prajurit setengah mitos pada zaman Napoleon Bonaparte, yang fanatik terhadap
Kaisarnya meskipun Chauvin sendiri miskin, cacat, dan menerima perlakuan buruk. https://id.wikipedia.org/wiki/Sauvinisme.
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional
I
17