BAB II NASIONALISME yang mengarang cerita-cerita Melayu berdasarkan penghidupan rakyat di tanah air kita sendiri?” 2) Ketiga, adalah peristiwa yang menghebohkan ketika Majalah Jong Sumatra memuat kisah tentang pernikahan seorang pemudi dari Kota Gedang dengan seorang pemuda dari Jawa Tengah --yang mana mereka samasama bekerja sebagai asisten pos di Medan. Hal itu memantik protes keras dan perdebatan yang sengit, terutama dari masyarakat Kota Gedang, oleh karena menurut adat yang berlaku di Kota Gadang: “...seorang gadis Kota Gedang tidak boleh kawin dengan seorang laki-laki yang tidak berasal dari Kota Gedang...Tetapi sebaliknya, seorang laki-laki asal Kota Gedang tidak dilarang oleh adat istiadat itu kawin dengan wanita yang tidak berasal dari Kota Gedang.” 3) Setidak-tidaknya, ketiga peristiwa tersebut mengabarkan pada generasi kemudian bahwa pada masa itu bandul kesadaran politik masih berat untuk bergerak dari daerah ke nasional; atau dari provinsialisme ke nasionalisme. Hal ini mendorong Hatta untuk mencari sebab-musabab mengapa sendisendi provinsialisme begitu kuat menghalangi munculnya “cita-cita persatuan bangsa”, yang kemudian jawabannya ia temukan setelah membaca pemikiran Herbert Spencer, sehingga ia sampai pada sebuah kesimpulan: “Satu, sifat tani yang dipengaruhi oleh lingkungan tanah yang dikerjakannya, kedua, keadaan insulair (kepulauan), yang kedua-duanya itu adalah dasar yang baik untuk menimbulkan perasaan buat hidup sendiri-sendirian serta berpikir sebagai katak di bawah tempurung.” 4) Peristiwa yang dialami oleh Hatta ditegaskan dan diperingatkan kembali oleh Soekarno dalam pidatonya dihadapan 60 anggota Panitia Penyelidik Persiapan Kemerdekaan (PPPK) yang telah berdebat berhari-hari untuk menjawab pertanyaan yang sangat mendasar dari Ketua, dr Radjiman 2) Hatta, 2015:119. Jilid I. 3) Hatta, 2015:120.Jilid I. 4) Hatta, 2015:132-133. Jilid II. 12 Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional

Select target paragraph3