BAB II
NASIONALISME
BAB II
Nasionalisme
A
gaknya, sebelum kita lebih lanjut mengacu tentang apa dan
bagaimana perdebatan di dalam forum sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) sebagai bentuk
berpegang kuat pada tali sejarah bangsa dan negara, maka ada baiknya kita
mengacu pada pengalaman Hatta, yang menggambarkan bagaimana ia
berproses menjadi seorang nasionalis, yang dari situ kita dapat mengambil
hikmah bagaimana kesadaran kebangsaan menumbuh, khususnya di dalam
diri Hatta, atau boleh juga dipahami sebagai bilamanakah untuk pertama
sekali muncul kesadaran nasional dalam diri Hatta? Ketika Hatta bersama
dengan Bahder dan Amir bertemu dengan H. Agus Salim di rumahnya,
yang ucapan kritisnya selalu dikenang oleh Hatta, pada saat itu, Agus Salim
telah dengan tajam dapat membedakan antara apa yang dimaksudkan
dengan “kedaerahan”, dengan apa yang seharusnya dijiwai, yakni yang
disebut dengan “tanah air”, sebagaimana berikut ini:
“Ia mengkritik gerakan pemuda yang hidup terkurung dalam
ide kedaerahan, kepulauan masing-masing, dan lupa akan tanah
airnya yang sebenarnya, yaitu Hindia. Kita harus melenyapkan
Belandanya, tinggal Hindia-nya bagi kita.” 1)
Kedua, pada saat Hatta, Amir dan Bahder bertemu dengan Abdul Muis yang
membicarakan tentang Sarikat Sumatera hingga masalah pengembangan
bahasa Melayu. Pada saat itu Bahder bertanya bagaimana pendapat St.
Muhammad Zain tentang pengembangan bahasa Melayu:
“Hingga mana Volkslectuur, Balai Pustaka, hendak
memajukannya. Apakah perlu roman-roman modern disalin
ke dalam bahasa Melayu, sedangkan di sebelahnya diadakan
inisiatif untuk menggerakkan timbulnya penulis-penulis kita
1) Hatta, Untuk Negeriku. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015. Jilid I, halaman 117.
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional
11