BAB I PENDAHULUAN Kleden, misalnya, setelah menguraikan tentang bagaimana para pendiri Republik ini memikirkan dan mempraktekkan apa yang disebut dengan nasionalisme itu, yang bukannya dengan cara menghafal maupun mengklaim diri, maka ia mengatakan betapa pentingnya di dalam berpolitik, berbangsa atau bernegara untuk memiliki basis ideologi yang kukuh: “Mungkin ada gunanya pemimpin politik masa sekarang mempelajari lagi bagaimana para pendiri Republik membangun atau merekonstruksi, dan merealisasikan ideologi agar pembicaraan politik tentang ideologi dewasa ini tidak menjadi bunyi nyaring yang keluar dari tong kosong.”3) Dawam Rahardjo pun mengatakan4) bahwasannya kini Pancasila telah tertransformasi dari ideologi yang terbuka menjadi ideologi yang kian tertutup.5) Sebagai sebuah ideologi yang tertutup, hal itu diindikasikan oleh pernyataan-pernyataan bahwa Pancasila sudah final, dan penafsirnya cenderung anti-kritik serta cenderung tampil sebagai demagog.6) Hal ini tentunya berakibat negatif terhadap Pancasila itu sendiri, yang dapat berupa: pertama, Pancasila terputus dengan, atau terasingkan dari dinamika realitas atau situasi lingkungan strategis keindonesiaan yang terus berubah, bahkan terus mengalami percepatan perkembangan. Kedua, akan muncul dan menguat monopoli kebenaran atau maujudlah tafsir tunggal, dan berlanjut ke sakralisasi atas Pancasila menurut tafsir tunggal tersebut. Konsekuensi logisnya terhadap Pancasila itu sendiri, sudah barang tentu, adalah menjadikan Pancasila sebagai sebuah (wacana) ideologi yang mati, yang 3) Ignas Kleden, “Pendidikan, Ideologi, Politik.” Kompas, 6 Agustus2015. Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengatakan: “Nasionalisme tumbuh bukan karena garis darah. Bukan karena dia seorang Bugis maka di Indonesia, b ‎ ukan karena Minang di Indonesia, tapi karena dia terdidik maka dia menjadi Indonesia‎. Dan Indonesia itu tumbuh lewat pendidikan, lewat pemikiran.” http://news.liputan6.com/read/2293447/70-tahun-merdeka-mari-menjadi-indonesia 4) M. Dawam Raharjo, “Pancasila Telah Dilupakan?” Kompas, 1 Juni 2015. 5) M Subhan SD berpendapat: “Barangkali pers-khususnya Kompas di usia 50 tahun ini-jangan berhenti menjaga Pancasila sebagai ideologi yang hidup, terbuka, dan dinamis!” http://print.kompas. com/baca/2015/06/26/Menjaga-Pancasila-Tetap-Terbuka 6) “demagog/de·ma·gog/ /démagog/ n Pol penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan.” http://kbbi.web.id/demagog 4 Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional

Select target paragraph3