P E N G A N TA R
Menggali Pancasila di Latuharhari
P
ancasila menempati posisi penting dalam kehidupan berbangsa
di Indonesia. Lima Sila dalam Pancasila merupakan nilainilai terpenting dalam hal apa proses berbangsa, bernegara dan
bermasyarakat sebaiknya dilakukan. Sebagai ideologi negara dan ideologi
bangsa, Pancasila bukan saja menjadi nilai-nilai das sollen (yang dicitacitakan bangsa Indonesia ke depan), melainkan suatu pengejawantahan
dari nilai-nilai kolektif yang digali dari spirit kehidupan masyarakat
Indonesia sejak menyelenggarakan kehidupan kolektif di bumi nusantara
(das sein). Tidak mengherankan jika Ir. Soekarno membayangkan Pancasila
sebagai abstraksi dari pengalaman otentik bangsa Indonesia, yang mengisi
jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun lamanya dan terpendam bisu
oleh kebudayaan Barat. Maka Pancasila bagi Soekarno adalah sumber
identitas dari imagined coomunity dari suatu bangsa yang kini disebut
Indonesia. Menurut Soekarno, bangsa Indonesia memiliki identitas
ketuhanan, kemanusiaan (humanisme), nasionalisme, demokrasi dan
sosialisme sekaligus. Seluruh asas/identitas yang diringkas dalam Pancasila
itu merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan.
Namun dalam perkembangannya, benih nilai-nilai Pancasila nampaknya
tak selalu tumbuh dengan baik. Bangsa Indonesia mengalami berbagai
fase sejarah yang berkelok-kelok, melewati badai dan topan pergolakan.
Pergolakan ini kerap melahirkan konflik berdarah-darah dan permusuhan
antar anak bangsa tiada henti. Dalam situasi seperti ini ibaratnya, Pancasila
seperti “tanaman yang terbonsai”. Pembonsaian Pancasila nampak jelas
dalam rezim politik Orde Baru. Pertama-tama pembonsaian dilakukan
dengan menutup tafsir lain atas pengamalan Pancasila dalam kehidupan
Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional
ix