TEMUAN Sagu sudah tidak kami dapat lagi di hutan, kami terpaksa beli beras ke kampung terdekat. Jika kering (tidak hujan) dengan motor jaraknya pergi pagi pulang siang. Jika hujan, tidak ada motor yang bisa lewat karena berlumpur. (testimoni Papua – yang diambil diluar DKU--) … rumah kami dirusak, hewan-hewan peliharaan seperti ayam, anjing, dll ditembaki aparat. Benih padi yang kami simpan dibakar, suami saya tidak tau di mana, saya gemetar ketakutan lari ke hutan… baru paginya saya berani lihat (bekas) rumah kami …. ke rumah memasak dan menyiapkan makanan. Akan tetapi, ketika luasan hutan semakin menghilang, maka mereka semakin susah untuk mendapatkan bahan makanan. Perempuan terpaksa menempuh waktu lebih lama untuk mencari makanan, dan harus membeli bahan makanan itu juga membayar biaya perjalanan untuk membeli makanan tersebut. Kondisi ini, selain menambah beban fisik lebih berat untuk mencari makanan, juga menambah beban ekonomi untuk mendapatkan uang membeli makanan. Perempuan mengalami beban ganda (multiple burden) ketika terjadi konflik atas sumber daya alam, di samping harus berperan ekstra untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pangan keluarga, mengalami ketiadaan rasa aman akibat ancaman, pelecehan, stigma, pengusiran, penganiayaan, dan kriminalisasi. Tidak mendapatkan informasi yang utuh dan lemahnya akses berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, juga tidak mendapat pekerjaan yang layak karena terpaksa beralih profesi menjadi buruh harian atau musiman dan menambang batu. (DKU Region Sumatera) Sagu hilang, kami terpaksa makan nasi, beli beras … Kami coba tanam padi, dibakar oleh perusahaan, rumah kami dibakar juga. (DKU Region Maluku) Ibu dan Anak Suku Malind, kampong Sanegi, Merauke, pulang dari kebun (Foto: Nanang Sujana, 2012) 19

Select target paragraph3