„ PEMENUHAN HAK KELOMPOK MINORITAS DAN RENTAN DI INDONESIA sangat tidak sebanding dengan kemampuan Negara mengimplementasikan kebijakan tersebut. Negara, yang didukung dengan otoritas, sumber pembiayaan serta aparatur tentu memiliki segala-galanya. ^ĞŵĞŶƚĂƌĂĚŝƐŝƐŝůĂŝŶ͕ŬĞůŽŵƉŽŬŵĂƌũŝŶĂůLJĂŶŐŵĞŶũĂĚŝŬŽƌďĂŶƚĞƌĚĂŵƉĂŬƟĚĂŬ memiliki kemampuan memadai untuk melakukan perlawanan. Dalam 2016 ini juga ĚŝǁĂƌŶĂŝƐĞũƵŵůĂŚŬŽŶŇŝŬƐŽƐŝĂůďĞƌďĂƐŝƐƐĞũƵŵůĂŚŝƐƵ͕LJĂŶŐďĞƌƵũƵŶŐƉĂĚĂƚĞƌůĂŶŐŐĂƌŶLJĂ ŚĂŬͲŚĂŬ ŬĞůŽŵƉŽŬ ŵŝŶŽƌŝƚĂƐ͘ <ŽŵŶĂƐ ,D ŵĞŶĐĂƚĂƚ ďĞďĞƌĂƉĂ ƉĞƌŝƐƟǁĂ yang berdampak pada kelompok-kelompok minoritas, baik yang merupakan rangŬĂŝĂŶĚĂƌŝƉĞƌŝƐƟǁĂƐĞďĞůƵŵŶLJĂ͕ŵĂƵƉƵŶƉĞƌŝƐƟǁĂLJĂŶŐďĂƌƵƚĞƌũĂĚŝĚŝϮϬϭϲ͘WĂĚĂ ϭϯKŬƚŽďĞƌϮϬϭϱ͕ƚĞƌũĂĚŝƉĞƌŝƐƟǁĂƉĞŶLJĞƌĂŶŐĂŶƚĞƌŚĂĚĂƉǁĂƌŐĂƉĞŶŐĂŶƵƚ<ƌŝƐƟĂŶŝ dan Katolik yang dilakukan oleh sejumlah organisas massa di Kabupaten Aceh ^ŝŶŐŬŝůLJĂŶŐŵĞŶƵŶƚƵƚĂŐĂƌŐĞƌĞũĂͲŐĞƌĞũĂĚŝ<ĂďƵƉĂƚĞŶƚĞƌƐĞďƵƚĚŝƚĞƌƟďŬĂŶƐĞƐƵĂŝ ŬĞƚĞŶƚƵĂŶLJĂŶŐďĞƌůĂŬƵ͘WĞƌŝƐƟǁĂŝŶŝŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶďĞďĞƌĂƉĂǁĂƌŐĂƚĞƌůƵŬĂ͕ϭǁĂƌŐĂ ƚĞǁĂƐ͕ ĚĂŶ ϭ ƌƵŵĂŚ ŝďĂĚĂŚ ;ŐĞƌĞũĂ ƚĞƌďĂŬĂƌͿ͘ ƵŶƚƵƚ ĚĂƌŝ ƉĞƌŝƐƟǁĂ ƚĞƌƐĞďƵƚ͕ ϭϬ ŐĞƌĞũĂĚŝĐĞŚ^ŝŶŐŬŝůƟĚĂŬůĂŐŝĚĂƉĂƚĚŝƉĞƌŐƵŶĂŬĂŶŬĂƌĞŶĂĚŝŶLJĂƚĂŬĂŶĚŝƚƵƚƵƉŽůĞŚ Pemerintah Daerah setempat, 11 gereja lainnya akan diproses perijinannya. Hingga akhir 2016, jemaat 10 gereja yang ditutup harus melakukan ibadah di tenda-tenda, sedangkan IMB 11 gereja lainnya belum juga diterbitkan. Di Kabupaten Rembang, warga yang tergabung dalam Paguyuban Sapto Dharmo juga mengalami hambatan dalam melaksanakan kegiatan peribadatannya, karena warga setempat menolak pembangunan ƉĞƐƵũƵĚĂŶ mereka. Dalam konteks lain, hak-hak kelompok minoritas etnis Tionghoa untuk dapat ŵĞŵŝůŝŬŝƚĂŶĂŚĚŝǁŝůĂLJĂŚWƌŽǀŝŶƐŝ/z;ĂĞƌĂŚ/ƐƟŵĞǁĂzŽŐLJĂŬĂƌƚĂͿũƵŐĂŵĞŶŐĂůĂŵŝ ŚĂŵďĂƚĂŶ͘ tĂƌŐĂ ĞƚŶŝƐ dŝŽŶŐŚŽĂ Ěŝ ǁŝůĂLJĂŚ ƚĞƌƐĞďƵƚ ŚĂŶLJĂ ĚĂƉĂƚ ŵĞŵƉƌŽƐĞƐ legalitas kepemilikan tanah mereka dengan status Hak Guna Bangunan (HGB), dan tidak dapat memproses kepemilikan tanah mereka dengan status hak milik, semata-mata hanya karena mereka beretnis Tionghoa. Terkait isu diskriminasi atas ĚĂƐĂƌŽƌŝĞŶƚĂƐŝƐĞŬƐƵĂů͕<ŽŵŶĂƐ,DũƵŐĂŵĞŶĐĂƚĂƚƚĞƌũĂĚŝŶLJĂƉĞƌŝƐƟǁĂƉĞŵďƵďĂƌĂŶ ĂĐĂƌĂ ƉĞůĂƟŚĂŶ ĂŬƐĞƐ ƵŶƚƵŬ ŬĞĂĚŝůĂŶ ďĂŐŝ >'d Ěŝ DĞŶƚĞŶŐ :ĂŬĂƌƚĂ WƵƐĂƚ ŽůĞŚ WŽůƐĞŬDĞŶƚĞŶŐ͘ŝƐĂŵƉŝŶŐŝƚƵ͕ƚĞƌŬĂŝƚƵƉĂLJĂƉĞŶLJĞůĞƐĂŝĂŶƉĞƌŝƐƟǁĂƉĞůĂŶŐŐĂƌĂŶ ,DDĂƐĂ>ĂůƵŚŝŶŐŐĂŬŝŶŝũƵŐĂďĞůƵŵŵĞŵƉĞƌŽůĞŚƟƟŬƚĞƌĂŶŐ͘ĞƌůĂƌƵƚͲůĂƌƵƚŶLJĂ penyelesaian permasalahan tersebut juga mengakibatkan makin buruknya kondisi sosial, ekonomi, politik kelompok-kelompok yang tercabut hak-haknya karena ĚŝĚƵŐĂƚĞƌĂĮůŝĂƐŝĚĞŶŐĂŶƉĂƌƚĂŝƉŽůŝƟŬƚĞƌƚĞŶƚƵĚŝŵĂƐĂůĂůƵ͘ ^ĞůĂŝŶĐĂƚĂƚĂŶŶĞŐĂƟĨ͕ĚŝϮϬϭϲŝŶŝ<ŽŵŶĂƐ,DũƵŐĂŵĞŶĐĂƚĂƚƚĞƌĚĂƉĂƚƉĞƌŬĞŵbangan kondisi yang baik terkait dengan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia. Hal ini misalnya dapat dilihat pada akhir tahun ini, Presiden Jokowi meresmikan pengakuan hutan adat seluas 13.100 Ha yang dikelola oleh 18 Laporan Tahunan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KOMNAS HAM) 2016

Select target paragraph3