Temuan
FAKTA-FAKTA
bahwa alasan lainnya yaitu memberikan ”kenyamanan” bagi serdadu,
dengan cara menyediakan a rana untuk melepaskan timbunan emosi,
ketegangan, dan rasa frustrasi menghadapi disiplin yang keras dan
kejam dan kondisi serba minim yang harus ditanggung174. Adapula
alasan tambahan yang muncul dari bukti-bukti yaitu melindungi tentara
dari resiko spionase dan pembocoran rahasia militer yang mungkin
terjadi bila para tentara mengunjungi kompleks pelacuran lokal. Tentara
Jepang percaya bahwa ‘membangun comfort station milik sendiri,
mensupervisi dan mengawasinya secara teratur adalah kebijakan
terbaik’ untuk menjaga rahasia militer.175.
Menurut kesaksian ahli Profesor Yoshimi, yang mengutip beberapa
kalimat dari catatan harian Iinuma Mamoru, tentara wilayah Cina Tengah
memerintahkan Pasukan Ekspedisi Shanghai untuk mendirikan “comfort
stations” di daerah Nanking. Tujuannya, menurut Profesor Yoshimi,
adalah untuk mengalihkan dorongan seksual sejumlah besar tentara
agar tidak memerkosa penduduk perempuan, dan untuk meredakan
kemarahan komunitas internasional dan lokal yang berkembang akibat
kekejaman perkosaan tersebut176. Iinuma Mamoru secara pribadi
menjalankan perintah ini, dan mengimplementasikan rencananya pada
19 Desember 1937, hanya enam hari setelah Nanking ditaklukkan 177.
Saat itu, Pangeran Assaka Nomimia, sepupu Kaisar HIROHITO, memimpin
Pasukan Ekspedisi Shanghai, dan dengan d
emikian merupakan atasan
langsung Iinuma Mamoru178.
Berbarengan dengan didirikannya fasilitas “comfort women” di S hanghai,
militer Jepang mendirikan fasilitas serupa di berbagai daerah di Cina.
Pada 18 Desember 1937, setelah peperangan di sekitar Kota Zhenjian
dan Yang zhou berakhir, Korps Medis Divisi ke-3 segera mendirikan
“comfort station” militer dan membeli perempuan untuk mengisinya179.
Fasilitas-fasilitas tersebut telah d
ikembangkan m
enjadi p
enyediaan
kenyamanan, relaksasi, dan sarana untuk
melepaskan
ketegangan
seksual bagi ribuan tentara Jepang yang dikerahkan untuk bertempur
dan merealisasikan ambisi kekuasaan Jepang.
Seiring dengan pergerakannya melintasi Cina pada 1938, tentara Jepang
secara intensif mendirikan “comfort stations”. Pada akhir Januari 1938,
dua fasilitas telah didirikan di Changchow, dan salah satunya dikelola
oleh satuan yang dikontrol langsung oleh Pasukan Ekspedisi Shanghai.
Pasukan Ekspedisi Shanghai juga mendirikan sebuah fasilitas serupa di
Yangjiazhai 180.
67
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents