Temuan FAKTA-FAKTA ­ engobarkan perang secara agresif di teritori yang ingin dikuasainya. m IMTFE menemukan bahwa Jepang berencana “mencapai ­ ­ dominasi ­militer, kelautan, politik dan ekonomi di Asia Timur, Samudra P ­ asifik dan Hindia, dan atas seluruh negara dan kepulauan yang ada di dalam atau membatasi wilayah tersebut.” 73. Dalam mencapai tujuan ini, para komandan militer dan pejabat Pemerintah Jepang m­elakukan, memfasilitasi, dan memperbolehkan d­ ilakukannya ­ kekejaman yang p ­ aling mengerikan dan tidak manusiawi terhadap r­akyat sipil [dan ­ tawanan perang] di wilayah Asia-Pasifik yang ­ dikalahkan dan ­didudukinya. Bagian berikut adalah review kronologi singkat ­pergerakan militer Jepang dan perbuatannya terhadap populasi sipil, sebagai kerangka dasar didirikannya “comfort stations” . 1. Kejahatan Umum dalam Agresi Jepang di Wilayah Asia-Pasifik Menurut IMTFE, agresi Jepang ditandai dengan pola serupa di seluruh wilayah Asia-Pasifik, selain dengan dilakukannya kejahatan-kejahatan yang berhubungan dengan sistem perbudakan seksual militer. ­Perkosaan massal, disertai kebrutalan yang sadis, terjadi di wilayah s­eperti Manila, Cina, Filipina, Indonesia, dan Hong Kong 74. Perempuan yang diperkosa termasuk perempuan warga masyarakat sipil [Filipina dan Indonesia], dan bahkan ibu, istri, atau kerabat perempuan lainya dari personel kilang minyak Indonesia. Di Hong Kong perawat diperkosa secara massal oleh tentara Jepang yang menduduki rumah sakit militer75. Perkosaan massal di Manila dilakukan “­ketika muncul berita bahwa Manila akan dibebaskan” 76. Pemerkosaan di Cina, khususnya di Nanking, memperoleh perhatian i­nternasional, akan dibahas selanjutnya. Bentuk-bentuk penyiksaan lainnya, seperti metode penyiksaan air [air dipompakan ke dalam tubuh korban sampai pingsan, kemudian ­bagian perut ditekan-tekan, seringkali dengan cara meloncat-loncat di atas ­perut korban, supaya memaksa air keluar lagi], membakar b ­ agian tubuh ­sensitif, termasuk organ seksual, dilakukan di Filipina, ­Malaysia, ­Indonesia, dan Timor Leste77. Pemaksaan korban u ­ ntuk berlutut pada suatu alat yang beresgi tajam tanpa boleh b ­ ergerak ­selama ­berjam-jam sangat sering terjadi di F­ ilipina dan M ­ alaysia 78. ­Metode lain meyiksa lutut, yang ­menyebabkan robeknya p ­ ersendian dan mengakibatkan sakit yang luar biasa, sering ­dipraktekkan di F­ ilipina, ­Indonesia, dan Timor Leste ­79. Menyetrum anggota tubuh, termasuk organ ­seksual, ­merupakan 51

Select target paragraph3