Temuan
FAKTA-FAKTA
tidak berkesempatan menceritakan pengalamannya pun tidak d
apat
menyambung kembali hubungan-hubungan pribadi yang telah
terputus. Selain itu, beban kehidupan pasca-perang banyak menguras
perhatian mereka. Korea tidak memiliki infrastruktur yang memadai
setelah bebas dari kekuasaan Jepang, sehingga tidak tersedia bantuan
finansial maupun konseling bagi korban. Perang Korea yang terjadi
dari 1950 sampai 1953 menimbulkan banyak kerusakan, kematian, dan
trauma bagi warganya.
Sentimen anti-Jepang dan ideologi kesucian juga turut berperan dalam
membungkam perempuan. Sejumlah penyintas ditekan oleh keluarga
atau komunitas agar tidak menceritakan pengalaman mereka. Mereka
juga khawatir dituduh bekerja sama dengan Jepang.
Selain itu, adanya berbagai kerancuan pengertian tentang kekerasan
seksual yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, menyebabkan
para perempuan ini mengalami kesulitan mendefinisikan apa yang
sebetulnya telah terjadi atas dirinya sendiri. Mereka mungkin bingung
tidak dapat memastikan apakah yang terjadi pada dirinya disebut
perkosaan, prostitusi, atau apapun, dan mereka tidak memiliki kata-kata
yang tepat untuk mendeskripsikan pengalamannya. Young-Hee Shim
menjelaskan bahwa korban pelecehan seksual dan pemukulan istri juga
tidak bisa menamai kejadian yang mereka alami sebelum istilah-istilah
tersebut diciptakan.
Dominasi kolonial dan gender mungkin juga telah m
emperparah
k
ebingungan para perempuan tersebut. Adakalanya mereka
menganggap diri rakyat Korea yang menjadi korban penjajahan
Jepang, namun kadangkala terlintas bahwa mereka--sebagai akibat
dari indoktrinasi Jepang--adalah pahlawan Jepang yang telah melayani
Tentara Kekaisaran Jepang. Young-Hee Shim menunjukkan bahwa
seluruh kisah kesaksian para penyintas telah mengembangkan diskursus
feminis bagi konsil Korea untuk perempuan yang dijerumuskan ke
dalam perbudakan seksual Jepang serta bagi studi perempuanan.
Young-Hee Shim, seperti Lepa Mladjenovic, menekankan pentingnya
keadilan sosial. Hanya saja Young-Hee Shim lebih memfokuskan
perhatiannya pada kekuatan kebenaran dari kisah para perempuan itu,
yang amat penting untuk membangun kembali ingatan kolektif dan
menggugah penulisan ulang sejarah. Ia juga mencatat cukup banyak
161
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents