MARJINALISASI HAK POLITIK PENYANDANG DISABILITAS penting khususnya di Kota Kuala Lumpur senantiasa dilengkapi dengan aksesibilitas baik yang berbentuk fisik maupun non fisik. Praktik diskriminasi dan marjinalisasi terhadap PD dalam layanan pendidikan dan recruitment tenaga kerja di Negeri Jiran ini, merupakan fenomena langka. Sehingga tidak heran jika figur yang menduduki jabatan penting dalam forum internasional mengenai PD dewasa ini cukup banyak yang berasal dari Malaysia. Lalu, bagaimana dengan proses pemberdayaan dan pembangunan kesejahteraan bagi PD di Indonesia? Pada setiap pertemuan dengan tokoh PD di Malaysia dan Jepang, saya menjelaskan bahwa proses pemberdayaan dan pembangunan kesejahteraan bagi PD di Indonesia sangat memilukan sekaligus memalukan. Jangankan untuk mendapat alokasi budgeting, diberi apresiasi dalam dunia pendidikan dan ketenagakerjaan saja sulitnya minta ampun. Bahkan, pernah dalam suatu pertemuan, saya berkelakar: “Sendainya saya bisa memperbaharui kelahiran saya, maka saya ingin lahir di Jepang atau Malaysia dan bukan Indonesia,” keluh Yehezkiel yang sehari-hari sebagai Instruktur Bahasa Inggris di SLB-A YAPTI Makassar. (Saharuddin Daming, 2006: 12) Penilaian serupa juga dikemukakan oleh Aden Achmad seorang tuna daksa pengguna kursi roda asal Bandung yang mengaku sangat takjub dengan paradigma perlakuan publik Australia yang begitu apresiatif terhadap PD. Hal itu ia rasakan ketika menjadi duta Indonesia dalam Abilympic Internasional ke-IV di Kota Perth-Australia pada tahun 1995 di mana dari hari pertama kedatangan hingga pulang ke Indonesia, sebagai pemakai kursi roda, Ia merasakan hidup begitu mudah. Mulai dari angkutan umum hingga tempat-tempat publik ia dapat mengaksesnya. Ia cukup turun dari kursi roda saat berada dalam kamar mandi, yaitu untuk pindah ke bangku plastik dan tentu saja, ketika mau tidur. Lalu, saat acara pembukaan Abylimpic, banyak orang yang tidak menyandang cacat yang menonton, termasuk anak-anak. Mereka semua tampak menghargai keberadaan PD. Tidak berlebihan kalau Aden mengatakan bahwa selama berada di sana ia merasa tidak cacat. Untuk menghilangkan dahaga keinginan-tahuan tentang tren keberpihakan tata kehidupan sosial Australia terhadap PD, maka Aden pun tidak segan-segan bertanya kepada salah seorang penonton di arena Abylimpic. Tanpa tedeng aling-aling, sang penonton mencoba menjelaskan bahwa Pemerintah Australia dan rakyatnya berpikir bahwa tak seorangpun di dunia ini yang bebas dari kecacatan. Saya pun dengan kondisi fisik yang disebut normal, sewaktu-waktu dapat tiba-tiba menjadi cacat. Sehingga tidak adil jika penyediaan sarana aksesibilitas menunggu ada tidaknya PD ditempat itu. Bagi Saya terangnya bahwa bila sesuatu itu aksesibel bagi PD, berarti jauh lebih akses lagi bagi non PD. (Yudhi Dzulfadli Baihaqi, 2007: 121dan 126) Hal sebagaimana digambarkan tersebut di atas, sebenarnya sudah banyak diketahui dan disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat dan tokoh intelektual Indonesia. Namun sayangnya karena secara kualitatif, sebagian masyarakat 34

Select target paragraph3