Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
2014
Bidang Pengawasan (2008-2009). Ia juga dipercaya memberikan asistensi kepada Dirjen
Otda dan Kesbangpol Kemendagri Dr. Ir. Sudarsono, H (2006-2008), dan Dirjen Otda
Kemendagri Prof. Dr. Johermansyah Johan, MA (2009-2012).
Pria ini termasuk aktif dalam persoalan tulis menulis karena cukup banyak tulisan yang
telah dipublikasikannya, terutama terkait isu hak asasi manusia, migrasi kependudukan,
ketenagakerjaan serta politik. Selain itu sejumlah artikel, opini, karya tulis ilmiah maupun
makalah juga pernah ia terbitkan di beberapa media masa nasional. Natalius juga secara
sering menjadi Narasumber di beberapa jaringan Televisi Nasional.
Sepanjang 2014, Natalius Pigai telah mengemban jabatan sebagai Ketua Tim
Pemantauan Pemilu Legislatif 2014 dan secara signifikan telah sukses mendorong
pelaksanaan Pemilu Legislatif berbasis Hak Asasi Manusia melalui komunikasi yang
intensif dengan lembaga-lembaga terkait seperti KPU, Bawaslu RI, DKPP, Mahkamah
Konstitusi, Kepolisian RI, Kementerian Hukum dan HAM, dan lain-lain. Terkait
penyelidikan kasus Paniai yang bahkan terindikasi telah terjadi pelanggaran HAM, ia
dipercaya sebagai anggota Tim. Tim ini dibentuk atas tuntutan dan desakan masyarakat
luas untuk segera mengungkap penyebab terjadinya penganiayaan terhadap warga sipil
(anak di bawah umur) pada 7 dan 8 Desember 2014 lalu.
Pria asli Papua ini bahkan telah bekerja cukup keras mendorong penyelesaian kasuskasus pelanggaran HAM yang telah dilaporkan ke Komnas HAM. Hal ini dibuktikan bahwa
sepanjang 2014 ini, Natalius telah menangani sekitar 1.400 dari 3.600 kasus pengaduan
yang telah diadukan ke Komnas HAM.
Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan
Doktor di bidang sosiologi politik ini lahir di Yogyakarta pada 14 Oktober 1959. Pada 1987
ia mendapatkan gelar Sarjana Geografi di bidang Kajian Wilayah dari Universitas Gadjah
Mada. Pada 1993, Otto melanjutkan pendidikannya pada program Pascasarjana Sosiologi
di Universitas yang sama. Program Doktoral ditempuhnya pada program Sosiologi
Universitas Indonesia tahun 2006.
Pengalamannya di bidang hak asasi manusia dimulai sejak 1989, ketika ia dipercaya
memegang jabatan sebagai Direktur Cordova, sebuah LSM di Banda Aceh yang
melakukan investigasi, advokasi dan publikasi kasus-kasus pelanggaran HAM di Aceh.
Pada 2000, Otto menjabat sebagai Sekretaris di Komite Independen Monitoring dalam
masa “Jeda Kemanusiaan” (Humanitarian Pause) dengan tanggung jawab melakukan
investigasi dan penyusunan laporan dalam perspektif HAM. Otto pernah menjadi relawan
pada Human Rights Watch pada 2001, yang berkantor di New York. Pada 2003, dia
ditunjuk menjadi Manajer Riset di YAPPIKA dengan tugas melakukan penelitian konflik
vertikal (Aceh dan Papua) dan horizontal (Poso dan Ambon). Hubungannya dengan
Komnas HAM berawal ketika ia diminta membantu melakukan monitoring untuk Aceh
sebelum dan sesudah provinsi tersebut berstatus Darurat Militer pada 2003. Otto
menjabat sebagai Direktur Program di Imparsial pada 2004 hingga 2006 sekaligus
menjadi peneliti senior di lembaga tesebut. Ia tercatat sebagai peneliti senior di Imparsial
12
Laporan Tahunan Komnas HAM 2014