2014
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Yang Masih Dinyatakan Hilang serta menjadi Wakil Ketua Tim pemantauan kasus Dukun
Santet 1998–1999 di Banyuwangi dan Jember.
Terkait kasus Penyelidikan Pelanggaran HAM Paniai, Papua, Nasution dipercaya sebagai
Ketua Tim. Tim ini dibentuk atas tuntutan dan desakan masyarakat luas untuk segera
mengungkap penyebab terjadinya penganiayaan terhadap warga sipil (yang terindikasi
anak di bawah umur) pada 7 dan 8 Desember 2014 lalu.
Melalui Peringatan Hari HAM Internasional 10 Desember 2014, Nasution ikut memberikan
kontribusinya baik pada acara pembukaan di Istana Negara Yogyakarta, maupun pada
Lokakarya Nasional yang diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jakarta. Ia pun turut
berpartisipasi pada upaya penyelesain konflik KPK dan Polri karena pada Januari 2015
telah diangkat menjadi Anggota Tim Penyelidikan Dugaan Kriminalisasi Pimpinan KPK.
Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan
Natalius Pigai lahir di Paniai Papua pada 28 Juni 1975. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu
Pemerintahan (SIP) dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) di
Yogyakarta pada tahun 1999. Selain pendidikan formal, ia juga mengenyam sejumlah
pendidikan non formal antara lain pendidikan statistika di Universitas Indonesia tahun
2004, pendidikan Peneliti di LIPI tahun 2005, dan Pendidikan Kepemimpinan di Lembaga
Administrasi Negara tahun 2010-2011, dan lain-lain.
Selama menyandang predikat mahasiswa, Natalius cukup aktif di sejumlah lembaga
seperti Senat Mahasiswa, PRD, dan lain-lain. Ia pun turut terlibat dalam kegiatan di
lembaga-lembaga lain seperti Yayasan Sejati yang memiliki perhatian pada hak-hak
masyarakat terpinggir di Papua, Dayak, Sasak dan Aceh (1999-2002); staf Peneliti Graha
Budaya Indonesia-Jepang (GBI)(1998-2001); staf di Yayasan Cindelaras yang
mempunyai konsentrasi mengembangkan kearifan lokal khususnya perjuangan hak-hak
petani (1998); dan tergabung dalam elemen civil society (Rumah Perubahan, Petisi 28,
Tata KTI, Alumni Kelompok Cipayung, dan lain-lain) yang cukup intensif dalam melakukan
kegiatan diskusi, seminar, aksi dan seterusnya yang berorientasi pada perubahan.
Kontribusinya cukup besar bagi budaya Papua ketika ia menjabat sebagai Ketua
Lembaga Studi Renaissance 1997-2000. Melalui buletin WOOKEBADA, ia bersama Titus
Pekey mulai menggali budaya Noken Papua. Usaha mereka yang cukup panjang telah
menghasilkan sebuah prestasi di tingkat dunia dengan diakuinya Noken sebagai salah
satu warisan budaya dunia oleh UNESCO di Paris Tahun 2002.
Selain aktif berkiprah di sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Natalius juga
sempat menjabat sebagai staf khusus menteri (Ir. Alhilal Hamdi dan Yacob Nuwa Wea) di
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI untuk periode 1999-2004 dan jabatan
terakhir sebagai pegawai struktural dan peneliti bidang Ketenagakerjaan dengan
spesialisasi Migrasi Internal dan Internasional.
Aktivitasnya pada dunia birokrasi tidak berhenti sampai di situ, ia sempat membantu BRR
Aceh-Nias pada Deputi Pengawasan sebagai penulis utama Ensiklopedia Tsunami
Laporan Tahunan Komnas HAM 2014
11