Modul 2
secara prinsipil selaras dengan nilai-nilai hak asasi manusia; namun tidak
tertutup kemungkinan ada juga tindakan-tindakan yang bertentangan
dengan nilai-nilai hak asasi manusia. Kita mungkin selalu membuka ruang
pada orang lain untuk mengungkapkan pikiran dan pendapatnya dengan
bebas, tanpa memandang siapa orang itu, berasal dari mana, dan lain
sebagainya. Tindakan ini bisa disebut selaras dengan nilai-nilai hak asasi
manusia.
Namun, boleh jadi, di lain saat kita menumpahkan kekesalan terhadap
seseorang dengan ungkapan: “Dasar orang Jawa, memang nggak bisa
dipercaya!” Secara prinsipil, ungkapan ini bisa dikatakan bertentangan
dengan nilai-nilai hak asasi manusia. Tindakan yang mungkin boleh disebut
yang paling sering terjadi adalah diskriminasi (atau pendiskriminasian).
Terlebih lagi dalam konteks masyakarat Indonesia yang plural, begitu
beragam dengan berbagai budaya, suku, ras, etnis, agama dan
kepercayaan, bahasa, dan lain sebagainya.
Secara tidak sadar, mungkin kita sering merasa, suku kita lebih baik dari
suku yang lain, agama kita lebih benar dari agama yang lain, budaya kita
lebih tinggi dari budaya yang lain, dan seterusnya. Adanya perasaan
ini sedikit banyak sebenarnya akan bisa menjadi awal bagi diskriminasi.
Berpangkal dari hal-hal semacam ini pula yang seterusnya akan bisa
menumbuhkembangkan apa yang disebut dengan stereotip. Jika hal-hal
ini sudah sampai pada suatu Tindakan yang mungkin boleh disebut yang
paling sering terjadi adalah diskriminasi (atau pendiskriminasian).
Kemunculan stereotip ini mungkin hanya karena ada segelintir orang
dari kelompok atau golongan tertentu yang kebetulan memiliki sifat dan
kecenderungan yang sama, tindakan, maka selangkah di depan akan
sudah terbuka lebar gerbang bagi lahirnya pendiskriminasian.
Kita mungkin sering mendengar pernyataan (atau bahkan kita pernah
mengatakannya), orang Padang itu pelit, seperti orang Cina, sangat
hitungan, tukang cari untung; orang Sunda itu pemalas, tukang kawin;
orang Jawa itu pendendam, “suka lain di mulut lain di hati”; orang
Madura itu kasar, pemarah, jika menyelesaikan masalah selalu dengan
jalan kekerasan; orang Batak itu rentenir, tidak berperasaan; orang Islam
itu teroris, tukang buat onar; perempuan itu sangat perasa, emosional,
20
Pelatihan Hak atas Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi “Ekspresi Seni”