transportasi yang lebih baik, maka daya beli tenaga kerja pun akan
meningkat. Akibatnya, upah riil akan meningkat di daerah konsentrasi
industri tersebut.
Namun, terkonsentrasinya aktivitas produksi pada daerah-daerah
tertentu juga dapat menjauhkan minat perusahaan lain untuk berinvestasi
di kawasan tersebut. Hal ini merupakan bentuk kekuatan sentrifugal
yang pada dasarnya akan memunculkan pemborosan eksternal atau
biaya-biaya tidak langsung yang tidak ekonomis (external diseconomies)
dari keberadaan industri-industri di kawasan tersebut. Dampaknya mulai
dari peningkatan harga sewa tanah, perumahan, kepadatan penduduk
hingga persoalan kemacetan dan degradasi lingkungan.
Inilah alasan mengapa dalam jangka panjang MP3EI secara
konseptual belum tentu bernilai positif. Alasannya, keuntungan
aglomerasi bisa saja bernilai negatif atau mungkin nol, tergantung pada
kondisi awal (initial condition) suatu negara atau daerah. Terkait dengan
hal itu, Gunnar Myrdal, dalam buku The Asian Drama: An Enquiry Into the
Poverty of Nations (1972), telah lama menekankan pentingnya penyiapan
prasyarat sosial, ekonomi, dan kelembagaan dalam proses pembangunan.
Menurut Myrdal, kegagalan pembangunan di negara-negara berkembang
pada umumnya dipicu oleh diabaikannya kelemahan strukur sosial,
ekonomi, dan politik dengan menganggap initial condition-nya sama
atau kurang lebih sama dengan yang diasumsikan dalam model-model
pembangunan di negara maju.
Selain itu, konsep teori ekonomi geografi baru juga belum
dibangun diatas landasan empiris yang kuat. Meskipun telah banyak hasilhasil penelitian yang menggunakan teori ini, namun masih perlu diuji
secara lebih mendalam (Schmutzler, 1999). Kelemahan mendasar dari
teori ekonomi geografi baru adalah kecenderungan untuk fokus pada
apa yang lebih mudah untuk dibuat model matematika daripada hal-hal
yang mungkin paling substansial dalam praktik-praktik pembangunan
Kandungan Pokok MP3EI
39