Standar Norma Pengaturan Nomor 9 tentang Pemulihan Hak-Hak Korban Pelanggaran HAM yang Berat | 59 nama agama, etnis, dan kedaulatan nasional. Museum ini menyimpan foto-foto langka, dokumen, dan bahan-bahan yang digunakan oleh para pejuang kemerdekaan dalam perang pembebasan, termasuk penggalian dua ladang pembantaian di pinggiran Dhaka. Rekonsiliasi Komunitas 278. Rekonsiliasi kultural dilakukan oleh salah satu organisasi masyarakat sipil. Upaya ini merespons terhadap ide rekonsiliasi nasional yang dilontarkan mantan Ketua Umum PB NU Abdurrahman Wahid saat menjadi Presiden (1999―2001).189 Rekonsiliasi kultural ini dibentuk untuk meningkatkan kesadaran publik tentang penderitaan mantan tahanan politik dan/atau korban kasus 1965,190 serta membangun rekonsiliasi antara para korban kekerasan 1965 dengan masyarakat sekitarnya. 279. Model rekonsiliasi akar rumput juga dikenal di negara-negara lain terutama berkaitan dengan perebutan ekonomi dan sumber daya alam. Pada awal '90-an konflik pecah di Wajir, sebuah wilayah di Kenya (berbatasan dengan Somalia) di mana banyak orang Somalia tinggal. Potensi konflik di wilayah ini sangat tinggi karena persaingan antarklan yang berbeda untuk menguasai dan menggunakan sumber daya alam yang langka. Di sana orang tidak akan menjual produk kepada orang lain karena mereka berasal dari klan yang berbeda. Asosiasi Perempuan Wajir untuk Perdamaian dibentuk untuk menghentikan konflik di area pasar. Contoh ini sangat menarik karena menunjukkan peran penting perempuan dalam transformasi konflik dalam budaya patriarki yang kuat. Pemulihan Psikologis dan Penguatan Psikososial 280. Inisiatif pemulihan dan penguatan psikososial dilakukan oleh organisasi korban yang menjadi wadah para perempuan penyintas di Yogyakarta dan sekitarnya, untuk saling mendukung satu sama lain dan berbicara tentang kondisi mereka di masa lalu dan kini. Mereka rutin mengadakan pertemuan bulanan, mengunjungi anggota yang sakit, dan memberikan saran medis dasar, yang dikelola oleh sesama anggota dan relawan. 281. Sementara itu di Afrika Selatan, Pusat Penanganan Trauma untuk para Penyintas Kekerasan dan Penyiksaan didirikan oleh masyarakat sipil yang ini dibuka pada 1993, namun pendiriannya tidak dapat dilepaskan dari sejarah dukungan korban selama 30 tahun yang dilakukan oleh dua sektor utama masyarakat, yakni kalangan Gereja (Cowley Fathers dan Church of the Province of South Africa/CPSA), organisasi kesehatan progresif (the South African Health and Social Services Organisation/SAHSSO) memainkan peran penting dalam memberikan layanan psikososial kepada para korban. Sebelumnya, mereka sudah bekerja secara diam-diam selama masa apartheid bersama dengan the Detainees Parents Support Group Committee (DPSG) and the Parents Support Group (PSG) untuk memfasilitasi pelatihan, memberikan layanan konseling, dan layanan medis untuk para mantan tahanan politik.191 Pusat penanganan trauma juga dapat ditemukan, contohnya di Gwangju Trauma Center: Caring for Survivors of State Violence and Torture in South Korea Gwangju Trauma Center adalah lembaga pertama yang bertanggung jawab atas pemulihan korban penyiksaan dan kekerasan negara di Korea Selatan. Lembaga ini dibentuk pada Oktober 2012 sebagai proyek Pito Agustin, Cerita Dianah dan Kisah Rekonsiliasi Kultural Korban https://nasional.tempo.co/read/1021075/cerita-dianah-dan-kisah-rekonsiliasi-kultural-korban1965/full&view=ok, diakses pada 7 November 2021. 189 1965, E. Katherine McGregor, “Confronting the Past in Contemporary Indonesia: The Anticommunist Killings of 1965―66 and the Role of the Nahdlatul Ulama,” Critical Asian Studies, 41:2, 2009, hlm. 195―224. 190 191 Lebih jauh tentang Pusat Penanganan Trauma di Afrika Selatan lihat https://traumacentre.org.za/history/

Select target paragraph3