Menggugat Negara Indonesia Atas Pengabaian Hak-Hak Asasi Manusia (Pembiaran) Jugun Ianfu Sebagai Budak Seks Militer dan Sipil Jepang 1942-1945 1989 1989 Juni 1990 1991 April 1991 Agustus 1991 November 1991 | 14 Buku pegangan sekolah Jepang pertama kali mengakui peranan Jepang dalam Perang Dunia II sebagai penyerang/ penjajah. Pertunjukan seni tentang Jugun Ianfu yang disutradai oleh Kenzuraida di Bengkel Teater, Indonesia. Senator Motooka Shoji dari Partai Sosialis Jepang, menuntut pengurangan anggaran dalam anggaran Komite Jepang, yang menjadi persoalan Jugun Ianfu dalam Pemerintahan Jepang. Pemerintah Jepang merespon bahwa isu Jugun Ianfu bukan merupakan tanggung jawab Pemerintah Jepang dan atau militer Jepang, tetapi lebih merupakan urusan privat dari para pengusaha. Pertunjukan seni tentang Jugun Ianfu disutradarai Kenzuraida di Taman Ismail Marzuki, Indonesia. Pemerintah Jepang membalas surat dari Korea yang menyatakan bahwa tidak ada bukti pemaksaan terhadap perempuan Korea untuk menjadi Jugun Ianfu. Oleh sebab itu tidak ada keharusan permohonan maaf, pembangunan memorial atau pengakuan fakta. Pemerintah Jepang juga kembali menyatakan bahwa Jugun Ianfu adalah pekerja seks komersil sukarela (voluntary prostitute). Kim Hak-Soon, seorang petani Jugun Ianfu dari Republik Korea memberikan testimoni di depan publik dalam peringatan Penyerangan Pearl Harbour, bahwa dia telah dipaksa menjadi Jugun Ianfu oleh militer Jepang. Mantan direktur pengerahan tenaga kerja propinsi Yamaguchi memberikan konirmasi melalui surat kabar Hokkaido Shimbun bahwa dirinya terlibat dalam pengerahan tenaga kerja waktu perang. saat itu dia paksaan dan penipuan terhadap Jugun Ianfu yang dilakukan bersama dengan militer Jepang.

Select target paragraph3