Pendahuluan kerusakan organ seksual dan reproduksi karena perlakuan yang tidak manusiawi dari para tentara dan sipil Jepang. 2. Posisi Jugun Ianfu dalam Kurikulum Pendidikan Sejarah Indonesia Masyarakat umum telah terlanjur menganggap Jugun Ianfu sebagai pelacur atau perempuan penghibur tentara Nippon, bukan sebagai perempuan korban kekerasan seksual tentara Nippon. Pelurusan sejarah menjadi sebuah keharusan untuk segera dilakukan. Hal ini karena, melalui kurikulum pendidikan yang ada, berkembang persepsi di masyarakat bahwa Jugun Ianfu sama dengan “pelacur” yang menyediakan dirinya secara sukarela sebagai penghibur dan pemuas nafsu seksual militer Jepang. Padahal kenyataannya, Jugun Ianfu adalah sebuah keterpaksaan sebagai budak seks. Mereka mengalami berbagai bentuk kekerasan dan tipu daya dalam bentuk intimidasi teror maupun bujuk rayu (diiming-imingi pekerjaan yang layak ataupun pendidikan yang lebih baik). Namun sesungguhnya itu merupakan jebakan pihak Jepang untuk menjadikan mereka sebagai budak seks di kamp-kamp militer Jepang. Bahkan militer Jepang telah berusaha mengkamulasekan sistem perbudakan seksual yang mereka lakukan dengan memberikan istilah Tei Shintai kepada perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu. Tei Shintai berarti “korps sukarela”, yang menggambarkan Jugun Ianfu sebagai sekelompok perempuan yang secara patriotik mengabdikan dirinya untuk kebutuhan seksual militer dan sipil Jepang, yang dianggap melaksanakan tugas luhur untuk membela negara4. 4. Watanabe Kazuko, “Militarism, Colonialism, and the Traicking of Women: “Comfort Women” Forced into Sexual Labor for Japanese Soldiers”. Dalam Bulletin of Concerned Asian Scholars vol.26 no.4, Oct-Dec.1994. 5 |

Select target paragraph3