74
Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n
Polhut TNBBS dan Tengkulak Kopi
Menghadang Kopi Masyarakat Banding
Agung Semende
Polhut TNBBS adalah makhluk menakutkan bagi masyarakat adat dan
perempuan Semende. Bertemu Polhut TNBBS bisa menggetarkan
seluruh tubuh mereka. Jauh sebelum peristiwa tahun 2012, Polhut
TNBBS selalu menghadang masyarakat yang naik atau turun dari
Semende di titik-titik tertentu antara lain di Simpang PDI, di Simpang
Kandis, juga di Simpang Sidirejo. Kerap kali, masyarakat yang berusaha
menurunkan kopinya melalui ketiga jalur tersebut, bila sedang tidak
beruntung dan bertemu dengan Polhut TNBBS, kopi yang mereka bawa
akan disita. Masyarakat tidak tahu ke mana kopi-kopi tersebut dibawa
oleh Polhut TNBBS. Harapan menjadi hampa ketika kopi disita. Seorang
perempuan Semende mengatakan :
“Kami benci sama Polisi dan Polhut. Kami tertindas begini
karena Polisi dan Polhut. Sudah satu tahun bapak diambilnya.”
(Yenny, perempuan Banding Agung Semende, Wawancara, 22
Oktober 2014).
Akhirnya, masyarakat mengembangkan strategi sendiri. Masyarakat
menjual kopi-kopi miliknya kepada tengkulak. Pilihan ini juga dilakukan
karena perjalanan untuk menjual kopi dari Dusun Lame Banding Agung
sangat berat bagi masyarakat Semende, terutama bila sedang musim
panen raya kopi tiba. Kopi yang sudah kering harus segera dikeluarkan
agar laku dijual. Namun, membawa 2—3 kwintal kopi sangatlah berat
dengan jalan yang sangat buruk. Jalan-jalan tersebut biasanya dilalui
hanya oleh babi hutan.
Dalam satu kesempatan, seorang anggota masyarakat adat Semende
membawa kopi melalui jalur Sidirejo. Ia harus berjuang dengan sepeda
motor trailernya membawa sekitar 2 kwintal kopi. Ia terjatuh di jalan
yang sangat terjal dan licin. Kopinya berserakan. Ia hanya mampu
terduduk menunggu ada orang yang lewat. Untung saja segera lewat
rombongan kami yang menuju arah yang sama sehingga bisa membantu
agar sepeda motor bisa diperbaiki dan berjalan lagi. Tengkulak biasanya
membawa kopi melalui jalur Merpas, meskipun mereka bertemu
dengan Polhut TNBBS, namun masyarakat menyatakan ada transaksi
yang terjadi sehingga kopi-kopi tersebut bisa lewat.