70 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n ikan, perempuan juga beternak ayam kampung dan entok untuk menambah protein keluarga. Beras darat maupun beras sawah juga pernah dihasilkan di Banding Agung Semende. Pasca peristiwa tragedi 2012, tidak ada yang berani lagi membuka hutan. Akhirnya masyarakat harus membeli beras. Belanja biasa dilakukan seminggu sekali ke kalangan (pasar). Biasanya laki-laki yang pergi ke kalangan, perempuan hanya menitipkan saja kebutuhan yang ingin dibelinya. Hanya sembako yang dibeli: beras, minyak makan, gula, garam, teh, bawang, cabai, tomat, dan stok makanan kering seperti ikan asin. Sisanya, semua kebutuhan tersedia di dalam wilayah adat. Sebelumnya, subsistensi mereka hanya terganggu oleh hama babi. Akan tetapi kini, subsistensi masyarakat adat dan perempuan Banding Agung Semende terganggu dan mungkin dihilangkan oleh negara yang melakukan “negaraisasi” wilayah adatnya. Masyarakat adat Dusun Lame Banding Agung Semende ditempatkan sebagai “perambah” taman nasional dan harus diturunkan dari punggung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Perempuan Dusun Lame Banding Agung dan Sumber Air Bersih Pagi hari di Banding Agung Semende selalu hari yang menggembirakan untuk bekerja. Kicau Burung Murai dan Brebah bersahut-sahutan. Tidak terlihat pandangan mata, tetapi suaranya nyaring terdengar. Mengiringi teriakan Siamang dan Wowe yang meloncat-loncat sembari berteriakteriak saling bersahutan memamerkan suara dan menandai wilayahnya. Ragam binatang liar masih cukup banyak karena masyarakat adat Banding Agung Semende masih memelihara hutan larangan di sekeliling kebun kopinya. Hutan larangan tersebut menjaga sumbersumber mata air, tebing, sempadan sungai dan perengan, juga menjadi tempat hidup binatang dan tanaman langka. Bila kita mau berkeliling wilayah adat Dusun Lame Banding Agung Semende, kita beruntung masih menemukan Bunga Raflesia Arnoldi sedang tumbuh dan berbunga di hutan-hutan dan sumber air di wilayah hutan Semende. Setidaknya, 3 kali sehari suara-suara hutan itu akan diperdengarkan, di pagi hari sekitar pukul 6 pagi saat matahari naik pukul 10 pagi dan sore hari pada pukul 4 sore. Hanya kedamaian semata saja yang ada di Semende. Meski dalam hati para penghuni Banding Agung Semende galau dan trauma karena beragam pengalaman diskriminasi dan kekerasan.

Select target paragraph3