SUMAT E R A
orang tua kami dikriminalkan, maka tanah ini adalah satusatunya harapan kami untuk bertahan hidup. Dari tanah ini kami
memiliki harga diri, kalau tanah kami dirampas, hilanglah harga
diri kami.” (Yenny, perempuan Banding Agung Semende, FGD
perempuan, 23 Oktober 2014).
Seorang perempuan Semende lainnya, Mulana hidup dalam kondisi
minimal setelah rumahnya dibakar pada tahun 2012. Dalam 2 tahun
terakhir, Mulana hidup sendiri di sebuah pondok yang terbuat dari
terpal. Anaknya baru menikah saat rumahnya di Dusun Lame Banding
Agung dibakar oleh TNBBS.52 Kini anaknya bertempat tinggal di Tanjung
Beringin. Mulana terus bertahan dalam kondisi tersebut karena ini soal
mempertahankan kehidupannya sebagai manusia, ia menyebutkan.
“Namanya kita masih mau makan, dan mau usaha, kalau kita
masih kuat, tidak mau merepoti anak. Cari makan sendiri.”
(Mulana, 45 tahun, Janda, Dusun Lama Banding Agung,
Wawancara, 22 November 2014).
Anak laki-lakinya hanya bekerja sebagai buruh tani di Tanjung Beringin.
Ia harus menghidupi anaknya, cucu Mulana yang berusia 1 tahun hanya
dengan gaji Rp30.000,-/ hari. Gaji tersebut merupakan gaji kotor karena
ia harus membawa bekal makan dari rumah. Dengan gaji seharga 3 kg
beras tersebut, anak laki-laki Mulana harus siap memerengi kebun
orang untuk bisa bertahan hidup. Karenanya Mulana yang sudah janda
tidak ingin menambah beban anaknya. Kini ia bertahan hanya dari
setengah hektar kebun kopi yang bisa diusahakannya. Untuk meminta
bantuan pihak lain, Mulana tidak memiliki modal, sementara untuk
mengerjakan semua kebunnya, Mulana juga memiliki keterbatasan
tenaga. Kini Mulana hidup dalam kepapaan di rumah beratapkan terpal
dan tidak berdinding di Dusun Lame Banding Agung Semende.
Hingga kini masyarakat adat dan perempuan Banding Agung Semende
sudah 15 tahun hidup di wilayah adatnya. Jauh sebelumnya, nenek
moyang Banding Agung Semende sudah bertempat tinggal di hutan
tersebut dan bersahabat dengan hutan. Hutan itu sebagai kampung
halaman di mana sebuah kehidupan berkembang dan bertumbuh. Yenny,
kembali menuturkan alasannya bertahan meskipun mengalami
diskriminasi dan kekerasan.
52
Rumah Mulana di bakar oleh TNBBS saat Mulana dan anaknya turun ke bawah untuk
menikahkan anaknya di rumah calon menantunya, pembakaran dilakukan sekitar bulan Juli
tahun 2012.
67